Jerih Payah Untuk Berubah dan Berbuah 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Tanpa terasa kita sudah mendekati awal masa Prapaskah yang dimulai pada hari Rabu Abu, 6 Maret 2019 sampai dengan Sabtu, 20 April 2019. Untuk memasuki masa khusus berefleksi dan mawas diri kita dihantar melalui Surat Gembala Prapaskah 2019 dari Bapak Uskup kita disertai dengan Peraturan Pantang dan Puasa. Inilah kesempatan istimewa sebagai gerakan pertobatan bersama yang menghasilkan buah kebaikan bersama. 
 

Kitab Putra Sirakh secara khusus mengajak kita untuk memperhatikan bagaiman kita berbicara dan mengatur mulut kita. Bahkan ujian terhadap manusia dapat diketahui pada bicaranya. “Perapian menguji periuk belanga penjunan, tetapi ujian terhadap manusia terletak dalam bicaranya.” Barangkali perlulah kita mencari bentuk-bentuk matiraga dan gerakan untuk membuat mulut kita lebih berhikmat. Artinya lebih banyak belajar kembali menyambaikan dan mewartakan kebaikan, harapan dan kebenaran dan kelemah lembutan. Pantang untuk berbicara kasar, bohong, menyebarkan fitnah, hoax, ujaran kebencian, gossip, dll. Semoga mulut kita lebih mudah untuk memuji, memberikan kata-kata peneguhan dan semangat, daripada kecaman, hujatan, umpatan, kekeraan, celaan dan nyinyir tanpa akhir. Lebih baik mendaraskan Litani Para Kudus, Rosario atau Doa-Doa Devosi atau Melambungkan Nyanyian dan Pujian Syukur kepada Tuhan. Semoga kita lebih terkendali dan bisa terbebaskan dari “litani Ragunan atau litani Safari”. 
 

Kecenderungan umum manusia adalah mudah melihat kejelekan, kekurangan dan keburukan orang lain, sementara begitu susahnya melihat situasi diri kita sendiri. Hal yang sama digambarkan Yesus dengan kritikan tajam terhadap perilaku munafik, nyinyir dan mencari-cari kesalahan sesama: “Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” 
 

Masa Prapaskah adalah masa dimana kita diajak bercermin dan mawas diri. Kita butuh cermin besar untuk menguji dan meneliti diri kita masing-masing yaitu Sabda Tuhan dalam Kitab Suci, 10 Perintah Allah, Pedoman Hidup, Sumpah Jabatan, Sumpah Profesi, Etika Bisnis, Janji Kampanye dan Realisasinya, Janji Baptis, Ajaran Sosial Gereja, dll. Panita APP telah mempersiapkan bahan-bahan pendalaman tema untuk mewujudkan gerakan pembaharuan baik secara pribadi maupun komunal sebagai paguyuban umat. 
 

Tidak kalah penting untuk memastikan bahwa pada tanggal 17 April yang akan datang ini, setiap orang Katolik yang sudah memiliki hak pilih dapat menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab dan menguji sungguh rekam jejak, catatan panjang sepak terjangnya dalam bidang yang selama ini diemban. Jangan samapi memilih secara membabi buta, fanatisme sempit karena terbuai ucapan, janji manis angin surga para kandidat pilpres maupun legistlatif. Tetapi secara kristis melihat buah-buah apa yang telah mereka hasilkan selama ini. 
 

Ibarat pohon yang baik, pasti akan menghasilkan kebijakan, sistem dan tata kelola yang baik yang memastikan kesejahteraan masyarakat. Pohon dikenal dari buahnya. Pemimpin yang baik dan berhikmat dapat dilihat dari kinerjanya, hasil karyanya, bukti nyata, bukan hanya omongan mulut manis dan janji sebaik apapun, apalagi kalau baru bisa bilang AKAN dan AKAN. Kita harus memilih ORANG BAIK yang telah mengeluarakan BARANG Yang BAIK (kebijakan, keberpihakan, aksi nyata, prestasi, harapan, dll) dari perbendaharaan (rekam jejak, bukti, koalisi dan relawan pendukung, dll) hatinya yang baik. 
 

Kita mohon rahmat melalui Bunda Maria, Bunda Segala Suku, Bunda Umat Berhikmat, agar kita semakin mampu mawas diri dan berefleksi secara mendalam pada masa Prapaskah 2019 ini. Selamat memasuki masa Prapaskah masa penuh rahmat untuk berjerih payah, bersungguh-sunguh untuk berubah dan menghasilkan buah pertobatan sejati. 
 

Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.