Mengasah Semangat Kepahlawanan 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

 

Kita memasuki pertengahan bulan November dalam suasana bulan khusus mendoakan arwah. Melalui bulan Arwah ini kita diajak untuk mengenang dan mendoakan saudara-saudari kita yang sudah meninggal. Bulan ini kesempatan istimewa untuk menyampaikan bakti dan cinta kita kepada mereka. Kasih takkan pernah putus dan hancur oleh maut sekalipun. Kasih itu kekal abadi selamanya. 

 
Secara khusus dalam bulan November ini pula kita sebagai bagian dari bangsa memperingati hari Pahlawan tanggal 10 November. Kita mengenang semangat perjuangan patriot bangsa yang gugur dalam laga membela dan memperjuangkan kemerdekaan dan tegak berdirinya NKRI. 

 
Sejarah membuktikan bahwa orang-orang Katolik berdiri dengan kokoh di bumi Indonesia menjadi patriot sejati: 100 % Katolik,100% Indonesia. Menjadi Katolik berarti menjadi orang Indonesia sejati yang berjuang bersama seluruh anak bangsa untuk mewujudkan cita-cita nasional negara yang adil, makmur sejahtera dalam bingkai NKRI berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 serta Bhinneka Tunggal Ika. 

 
Diantara mereka yang menjadi pahlawan yang diakui resmi oleh Negara dan Pemerintah adalah: Ignatius Slamet Rijadi (AD), Agustinus Adisutjipto (AU), Yosaphat Soedarso (AL), I.J. Kasimo (Parpol), A. Sugijopranoto, SJ (Uskup). Cornelius Simanjuntak (Musik), Tjilik Riwut (Kalimantan). Dalam berbagai bidang mereka mempersembahkan hidup mereka untuk Indonesia tercinta. 

 
Adalah tugas kita ikut mengemban tanggung jawab sejarah. Kalau kita mewarisi nama besar dan harum pendahulu, baiklah kita mempertahankan dan mengembangkannya. Kalau kita mewarisi hal buruk, adalah tugas kita untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan para pendahulu. Belajar dari sejarah. Kalau kita tidak mewarisi apapun yang baik dari pendahulu yang tertoreh dalam jejak sejarah, inilah saatnya kita dipanggil untuk membuat sejarah baru. 

 
Semangat dan benih kepahlawanan, sesungguhnya ada dalam diri kita semua. Ada kapasitas untuk mewujudkan semangat melampaui diri / ego (kepentingan, kesenangan, keinginginan diri, dll). Namun hal itu perlu diasah dan dipelihara dari waktu ke waktu. Inspirasi bacaan Minggu Biasa XXXII ini menjadi landasan kokoh untuk mengembangkan sikap kepahlawanan yaitu mulai dengan sikap murah hati dan kerelaan berkorban. Inilah salah satu wujud kesempurnaan kasih yaitu kemurahan hati. 

 
Kalau kita berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik pada kita, itu namanya BALAS BUDI, timbal balik. Kalau kita berbuat baik sebelum orang lain berbuat baik kepada kita, itulah KEUTAMAAN, kebaikan. Namun, kalau kita mampu berbuat baik terhadap orang telah berbuat jahat pada kita = KEMURAHAN HATI. 

 
Kita mohon pula rahmat melalui Bunda Maria, agar kita semakin bertumbuh dalam semangat kemurahan hati yang melandasi jiwa kepahlawanan. Semoga semangat yang dihayati seluruh umat KAJ semakin mewujudnyata yaitu semangat gembala baik dah murah hati. Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.