Paguyuban Tuna Rungu Katolik (PATURKA)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

paturka

“Sesibuk apa pun pekerjaan kamu, teman-teman tuna rungu jangan sampai ditinggalin,” kata Frans Susanto menirukan pesan ibunya padanya

 

Ada sesuatu yang lain ketika anda mengikuti misa pada pukul 11.00 setiap hari Minggu di gereja Katedral Jakarta. Anda akan melihat seorang penerjemah bahasa isyarat (interpreter) yang berdiri di depan altar St Yusuf dan dengan tangan yang bergerak-gerak dan gestur tubuh serta mimik muka nya berusaha menerjemahkan seluruh kegiatan dalam misa tersebut kepada penyandang tuna rungu dari kelompok Paguyuban Tuna Rungu Katolik (PATURKA) yang ada di depannya. Nama dari interpreter tersebut adalah Frans Susanto.

 

Frans Susanto memulai pelayanannya sebagai interpreter ketika ia duduk di bangku kuliah seminari. Kuliah di seminari mengharuskan para siswanya diminta untuk melakukan kegiatan sosial. Ketika teman-temannya memilih untuk melayani sebagai guru, melayani anak-anak jalanan atau melayani para nelayan dan lain-lain tersebut, Frans Susanto memilih untuk melayani kaum disabilitas. Pada saat itu, dia melayani semua disabilitas seperti tuna netra, tuna rungu dan tuna grahita. Seiring berjalannya waktu, Frans yang waktu itu masih di seminari ini mengkhususkan dirinya untuk para penyandang tuna rungu.

 

Tahun 2007, Frans merasa bukan panggilannya sebagai imam oleh karena itu dia mengundurkan diri dan mulai menjalani hidup sebagai umat awam. Walaupun bukan sebagai biarawan lagi tetapi panggilannya sebagai seorang interpreter untuk melayani kaum tuna rungu tetaplah berlanjut. Frans menyadari bahwa jumlah interpreter Katolik sangat sedikit dan teman-teman dari tuna rungu ini menginginkan seorang interpreter Katolik dan mempunyai “cita rasa” Katolik.

 

Walaupun penerjemah bahasa isyarat merupakan pelayanannya tetapi dia menjalaninya dengan profesional. Walau dalam kondisi sedih, dia tetap harus bisa menampilkan wajah gembira ketika bacaan Kitab Suci menceritakan kisah yang gembira. Frans juga mempersiapkan diri dengan mempelajari teks misa sebelum dia bertugas. Tetap rendah hati dan tidak sok tahu menjadi pedoman hidupnya. Dia tetap mau bertanya apabila ada kata / kalimat yang dia tidak tahu terjemahannya. Berdoa sebelum bertugas tak pernah dilupakannya, dia selalu berdoa agar dirinya menjadi saluran firman Tuhan dan bukan saluran firman diri sendiri.

 

Banyak suka yang dirasakannya sehingga duka tidak terlalu dia pedulikan. Keinginannya untuk dapat misa bersama dengan orang tuanya membuatnya misa dua kali karena jarak yang jauh dari Katedral sehingga tidak memungkinkan orang tuanya ikut bersamanya ke Katedral. Tuhan juga memberikan hadiah seorang istri yang baik yang dia kenal pada saat melakukan pelayanan. Banyak penghiburan rohani dan berkat yang dia terima dalam kehidupan sehari-hari. Dia memberikan kesaksian bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan dia kekurangan bahkan selalu memberikan sesuai kebutuhan bahkan berlimpah.

 

Akhirnya Frans Susanto berharap agar lebih banyak lagi orang yang terpanggil untuk menjadi penerjemah bahasa isyarat yang mempunyai komitmen melayani secara tetap sehingga lebih banyak lagi kaum tuna rungu yang bisa memperoleh layanan untuk mengerti misa dan pemahaman tentang iman Katolik lainnya.

This entry was posted in Warna Warni. Bookmark the permalink.