Iman adalah Dasar Segala 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

 

Beriman adalah tanggapan manusia atas perwahyuan Allah. Itu ungkapan yang sering kita dengarkan. Iman itu bisa berupa rumusan yaitu Credo / Syahadat. Iman menjadi hidup dalam perbuatan, tindakan atau perbuatan. Tindakan yang didasari atas keyakian iman yang benar membawa banyak orang menemukan keselamatan dan kebaikan. Kitab kebijaksanaan melukiskan orang beriman yang merasa tergerak untuk bertindak dan terlibat: “Diam-diam anak-anak suci dari orang yang baik mempersembahkan kurban dan dengan sehati mereka membebankan kepada dirinya kewajiban ilahi ini: orang-orang suci akan sama-sama ambil bagian baik dalam hal-hal yang baik maupun dalam bahaya. 

 

Kitab Ibrani memberikan uraian panjang lebar tentang contoh dan teladan iman. Salah satu teladan utama yang diakui oleh kaum beriman baik Yahudi, Nasrani (Kristen) dan Muslim. Abraham / Ibrahim adalah bapa teladan iman. Kalau saudara/i kita umat Islam merayakan hari Idul Adha / Idul Kurban, tak telas dari ketokohan dan pengalaman pergumulan Abraham untuk mengorbankan anaknya yang tunggal demi ketaatan kepada perintah Tuhan. Kita tahu akhirnya Tuhan melarang Abraham membunuh Ishak dan memberikan domba sebagai gantinya. Abraham rela mengorbankan segalanya untuk mewujudkan imannya. Karena itu Abraham sungguh menjadi berkat bagi keluarganya dan bagi bangsanya dan umat manusia. Kita ucapkan selamat Idul Adha kepada saudara/i kita umat Islam yang merayakannya. 

 

Iman adalah dasar dari segala segala yang kita harapkan dan bukti dari segala yang tidak kita lihat. Iman selalu diuji dengan tindakan pengorbanan seperti ditunjukkan Abaraham. Ia meninggalkan tanah leluhurnya untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya; ia berangkat tanpa mengetahui tempat yang ia tuju. 

 

Bentuk lain sikap perwujudan iman ditunjukkan Yesus dalam Injil hari ini yaitu seorang hamba Allah yang sejati. Sikap itu ditampakkan dalam sikap tidak takut dan tetap berjaga serta melaksanakan tugas dengan setia. “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberi kamu Kerajaan-Nya. Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang.” Hamba yang baik tentu tidak hanya sekedar menjalankan perintah atau tugas. Ia mampu bertindak dengan kreatif namun penuh tanggung jawab. Kadang kala harus bertindak melebihi tuntutan tugas sebagai bentuk pengabdian total dan maksimal. “Barangsiapa diberi banyak, banyak pula dituntut dari padanya. Dan barangsiapa dipercaya banyak, lebih banyak lagi yang dituntut dari padanya.” 

 

Bulan ini kita menyongsong HUT RI ke – 74, sekaligus merayakan pesta nama pelindung Gereja dan Paroki Katedral tercinta yatu St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga. Semoga berkat doa dan penyertaan Bunda Maria, Yang Diangkat Ke Surga, Bunda Segala Suku, Bunda Umat Berhikmat, kita semakin tangguh beriman dan menjadi hamba Allah yang taat setia seperti teladan Bunda Maria dan Bapa Abraham.

 

Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.