Kegigihan Segelintir Orang Baik – Menyelamatkan

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

 

Minggu ini kita diajak untuk membangun sikap keteguhan dan kehendak yang kuat. Tentu saja kehendak yang dimaksud pastilah kehendak baik memohon kepada Tuhan dalam doa. Hal menarik yang perlu kita refleksikan adalah aspek kegigihan dalam memohon sebagaiman ditunjukkan oleh Abraham tentang keselamatan Sodom dan Gomora. Bukan untuk kepentingan egoistik semata, tetapi demi kebaikan bersama, kemaslahatan banyak orang. Betapa dahsyat peran orang-orang baik-baik seperti Abraham dan orang-orang baik yang jumlahnya hanya segelintir tetapi menentukan keselamatan banyak orang. Dalam sejarah keselamatan sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Suci, kaum anawim“sisa Israel” yang segelintir tetapi yang menjadi tumpuan harapan dan masa depan. 

 

Abraham adalah sosok yang boleh kita jadikan teladan seorang yang peduli akan nasib orang banyak. Ia gigih negosiasi dengan Tuhan tentang nasib Sodom dan Gomora. Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Jawab Tuhan, “Aku takkan memusnahkannya demi yang sepuluh itu.” Demikian pula dalam refleksi Paulus, Kristus adalah pribadi yang mengorban dirinya bagi manusia. Ia membayar lunas. Kini Allah menghidupkan kamu bersama Kristus sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita. Surat hutang yang oleh ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita, telah dihapuskan-Nya dan ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib. Apakah kita juga siap dan berani menjadi segelintir orang yang gigih memperjuangkan kepentingan banyak orang? 

 

Dalam Injil hari Ini Yesus mengajari kita berdoa dan secara khusu memohon dengan tekun. Dalam doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus, hal menarik adalah hilangnya kata “secukupnya” dari doa resmi Bapa Kami yang kita kenal. Dalam Injil Lukas tertulis: “Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya, dan ampunilah dosa kami, sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Kaca kunci secukupnya sesungguhnya penting karena itu melatih kita untuk menahan diri tidak jatuh dalam keserakah dan tetap dalam sikap batin lepas bebas atau kemerdekaan batin. 

 

Pada sisi lain, Yesus mengajari kita untuk tekun dan gigih dalam memohon kepada Tuhan karena percaya bahwa Allah itu Bapa yang baik. “Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan mendapat, dan setiap orang yang mengetuk akan dibukakan pintu.” Namun demikian kita juga harus sadar diri tidak selalu apa yang kita mohon itu dikabulkan. Beberapa hal ini boleh menjadi permenungan kita:

 

  1. Tuhan punya waktunya sendiri.
  2. Kita belum siap menerima.
  3. Kita diajak untuk lepas bebas.
  4. Kita diminta bertekun penuh pengharapan.
  5. Tuhan mau memberikan arah lain.

 

Kita diminta percaya penuh pada Allah Bapa kita: “Jika kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada siapa pun yang meminta kepada-Nya.” Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Namun tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Apakah kita tetap bertekun kendati mungkin tidak dikabulkan doa permohon kita? Apakah kita memohon Roh Kudus untuk berhikmat dan menemukan kehendak Tuhan atau arah lain yang mau ditujukkan Tuhan? 

 

Semoga berkat doa dan penyertaan Bunda Maria, Ratu Surga, Bunda Segala Suku, Bunda Umat Berhikmat, kita semakin bertekun dalam doa dan gigih memperjuangkan kepentingan umum.

 

Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.