“Keramahan tamahan Kristiani…”

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Minggu ini kita diajak untuk bermenung tentang hidup kita sebagai persekuatan umat beriman di tengah dunia. Paus Fransiskus ketika ditanya gambaran Gereja jaman sekarang seperti apa yang diharapkan Paus? Jawabnya mengejutkan. Gambaran Paus Fransiskus yaitu Gereja seperti rumah sakit di medan perang. Gereja harus merawat manusia yang terluka. Bukan gereja yang bersih dan steril, tetapi gereja yang kotor belepotan karena terlibat dalam dunia yang dipenuhi banyak penderitaan dan hadir menampilkan wajah belas kasih Allah seperti diwartakan Yesus dalam Injil. Rumah sakit dalam bahasa lain disebut hospital. Asal kata sama dari hospitalitas = keramah tamahan, persaudaraan, persahabatan, kehangatan.

Gambaran kehangatan dan keramah tamahan kita temukan dalam bacaan I kisah Abrahaman dan Sara yang kedatangan tamu yang singgah di kemahnya. Inilah yang disampaikan Abraham kepada tamunya: “Tuanku, jika aku mendapat kasih Tuan, singgahlah di kemah hambamu ini. Biarlah diambil sedikit air, basuhlah kaki Tuan dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah hamba mengambil sepotong roti, agar Tuan-Tuan segar kembali. Kemudian bolehlah Tuan-Tuan melanjutkan perjalanan. Sebab Tuan-Tuan telah datang ke tempat hambamu ini.”

Hal yang sama dapat kita temukan dalam diri Maria dan Marta yang menyambut Yesus yang bertamu di rumahnya. Dikisahkan dalam Injil bagaimana Maria ini duduk di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Tuhan peduli bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Maria dan Marta masing-masing dengan caranya menyambut Sang Tamu yaitu Yesus. Karena Martha mendesak supaya hanya ada satu cara melayani tamu, Yesus pun memberikan nasehat bijak kepadanya: “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Satu hal penting yang diingatkan pada Minggu ini untuk kita kembangkan atau kita belajar lebih baik lagi yaitu sikap keramah tamahan sebagai salah satu ciri dasar orang Kristiani. Baiklah kita meneliti diri, keluarga, lingkungan, paroki, gereja kita dengan pertanyaan refleksi: Apakah kita sudah masih memiliki keramah tamahan kristiani? Apa yang harus kita lakukan supaya ciri itu makin tampak dalam hidup dan aktivitas kita pribadi maupun hidup bersama? Bila sikap keramah tamahan itu mulai menipis, bagaimana kita bisa memperkuat sikap ramah itu?

Semoga berkat doa dan penyertaan Bunda Maria, Ratu Surga, Bunda Segala Suku, Bunda Umat Berhikmat, kita semakin memiliki sikap dasar keramah tamahan kristiani.

Tuhan memberkati.

This entry was posted in Berita KOMUNITAS. Bookmark the permalink.