SALAM DAMAI

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

 

Pada Minggu Biasa XIV ini kepada kita semua disampaikan tantangan nyata dan dunia di mana kita diutus sebagai murid-murid Yesus. Situasi yang digambarkan sangat menantang dan penuh resiko: “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Pesan pokok yang harus diwartakan oleh semua murid Yesus adalah mewartakan datangnya Kerajaan Allah. Mereka diutus tanpa senjata atau fasilitas yang hebat, sebaliknya satu-satunya yang dibawa adalah Salam Damai. 

 

Menarik bahwa cara mereka diutus tidak sendirian tetapi berdua-dua. Jumlah yang diutus dikisahkan ada 70 orang murid. Angka “70” itu ada arti simboliknya, yaitu kelipatan terbesar (“10”) dari kelompok yang utuh (“7”). Maksudnya, “semua orang, siapa saja yang menjadi murid Yesus”. Jadi bukan hanya Yang Duabelas. Angka “70” juga mengingatkan kita akan 70 tetua yang ditetapkan Musa untuk membantunya memimpin umat (Bil 11:16.17.24.25). Hal itu berarti bahwa para murid diikutsertakan menjalankan tugas Yesus seperti Para Tetua membantu Musa. 

 

Dari cara bertindak Yesus dalam melibatkan para murid kelompok 12 dan 70, kita bisa belajar kepemimpinan yang dalam Ardas KAJ dirumuskan partisipatif dan transformatif. Kita juga diajari bagaimana berlatih bekerja sama dan bekerja bersama-sama. Bukan Single fighter, bukan one man show. Melainkan Diutus Berdua-dua. Sejak semula para murid diajak belajar bekerja bersama dalam team work dan network.Semangat yang dalam bahasa kekinian disebut sinergis. 

 

Minggu ini kita diajak senantiasa menghayati kehidupan ini dalam sukacita karena kita telah menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Itulah yang memberi makna dan dasar sukacita injili. Bagi kita semua orang yang menjadi milik Allah dan menjadi murid Yesus hidupnya senantiasa dilimpahi damai sejahtera dan rahmat. Di tengah berbagai tantangan, badai masalah dan bahaya yang mengancam, murid Yesus tidak akan pernah kehilangan damai sejahtera yang telah diberikan Yesus. Sebaliknya di tengah situasi yang makin tercabik oleh kekera-san, kebencian, konflik karena mengerasnya radikalisme, intoleransi dan fundamentalisme atas nama agama, ideologi atau politik identitas, kita diutus untuk mewartakan damai sejahtera Kerajaan Allah. 

 

Helen Keller terlahir buta dan tuli. Ia seorang penulis dan Pembicara yang ternama. Suatu ketika Ia ditanya: “Jika Anda boleh minta sesuatu dari Tuhan dan pasti diberi, apa yang Anda minta?” Ternyata, Helen Keller tidak minta bisa melihat dan mendengar tetapi ia menjawab: “I’d wish for world peace” Saya ingin mohon perdamaian dunia. Pertanyaan untuk kita refleksikan: Apakah aku mengalami dan merasa-kan DAMAI? Apakah aku telah ikut serta menjadi pembawa damai? Bagaimana aku dapat semakin membawa damai? Tuhan jadikanlah aku pembawa damai…. 

 

Semoga berkat doa dan penyertaan Bunda Maria, Ratu Surga, Bunda Segala Suku, Bunda Umat Berhikmat, kita semakin semakin terlibat menjadi pewarta dan pembawa damai.

 

Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.