Tantangan Iman

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

 

Minggu ini kita memulai kembali lingkaran liturgi masa biasa. Setelah kita diajak merenungkan pokok-pokok misteri iman, kita diajak untuk kembali menegaskan komitmen kita dalam mengikuti Yesus. Bacaan-bacaan hari ini mengungkapkan tantangan hidup iman yakni membuat pilihan-pilihan yang menentukan arah hidup. Tiga pokok permenungan yang bisa kita gali bersama yakni:

  1. Menyelamatkan bukan membinasakan.
  2. Bukan kemapanan, kenyamanan, tetapi kesiapsediaan, terbuka, dinamis; dan
  3. Totalitas, komitmen, memandang ke depan.

 

Tantangan hidup beriman dapat dirumuskan secara singkat dengan semangat hati Allah yaitu menyelamatkan dan bukan membinasakan. Berhadapan dengan berbagai tantangan hidup, sikap dasar ini yang senantiasa harus diperjuangkan yaitu menyelamatkan, membina dan bukan membinasakan. Semangat tersebut perlu diwujudnyatakan dalam perjuangan menegakkan martabat manusia dan bonum communae /kesejahteraan umum. Nasionalisme, patriotisme, aspirasi politik, ideologi, agama dsm, adalah sesuatu hal yang baik, tetapi tak boleh mengorbankan kemanusiaan dan mengobarkan kebencian atau permusuhan dan dendam. Kemanusiaan itulah ikatan kewarganegaraan dunia.

 

Tantangan iman kedua, adalah terbuka dan siap sedia. Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa Ia tidak menjanjikan keamanan, kenyamanan, kemapanan dan kedudukan. Sebaliknya, setiap murid Yesus harus siap menanggung segala resiko dan konsekuensi dari pilihan dasar. Siap berubah dan bergerak dinamis. “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

 

Tantangan iman ketiga, adalah keberanian melangkah maju ke depan. Bakti dan ikatan keluarga, famili dan kemasyarakatan tak mengalahkan bakti kepada Tuhan. Tradisi, kebiasaan, dan kewajiban keagamaan dan kebudayaan sungguh baik, tetapi harus terbuka terhadap tantangan, kemungkinan, relasi baru. “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah.

Tantangan iman minggu ini menggugah kita semua untuk berani “move ON” dan tidak “mager” (malas gerak). Untuk bisa bergerak maju, kita diharapkan mampu mengambil jarak dan melepaskan diri dari keterikatan pada masa lalu, kisah sukses, memori, luka, trauma, duka, dsm, dan mengarahkan pandangan menatap masa depan.

 

Kemerdekaan batin yang sama juga ditegaskan oleh St. Paulus kepada Jemaat Galatia, yaitu “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

 

Semoga berkat doa dan penyertaan Bunda Maria, Bunda Umat Berhikmat, Bunda Segala Suku, kita semakin diteguhkan dalam pilihan-pilihan untuk mengikuti Yesus dengan tekun dan setia dalam kegembiaraan dan kemerdekaan batin anak-anak Allah.

 

Tuhan memberkati.

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.