Daya Kasih Membaharui 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail


 

Sesudah minggu Paskah IV lalu, kita diajak berdoa bersama untuk mohon panggilan khusus untuk pelayanan sebagai imam, bruder dan suster, padaMinggu Paskah V ini kita diajak untuk mengingat kembali panggilan umum setiap orang kristiani yaitu melaksanakan perintah Yesus yaitu saling mengasihi. Bahkan Yesus dalam injil Yohanes memberikan indikator atau tolok ukur yang jelas apakah kita layak mengaku diri dan diakui sebagai murid Yesus adalah kalau kita saling mengasihi. “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” 

 

Kita patut bersyukur bahwa kata yang dipakai untuk mengalih bahasakan kata “AGAPE” (Yunani) ke dalam bahasa Indonesia KASIH. Kata kasih dengan jitu dan tepat mengungkapkan makna agape (pemberian diri, pengorbanan diri). Kita tahu sinonim / padanan kata dari KASIH adalah memberi. Kasih mendapatkan makna yang terdalam dan sempurna manakala ada tindakan pemberian diri secara tulus tanpa pamrih bahkan pengorbanan diri untuk mereka yang dikasihinya. Kita semua dipanggil untuk mencapai kesempurnaan kasih seperti yang dimaksud Yesus ketika memberikan perintah baru yaitu “supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.” 

 

Bila kita umat kristiani, para pengikut Krisus sungguh mewujudkan perintah saling mengasihi dalam segala aspek kehidupan baik pribadi, keluarga, komunitas ataupun lingkungan dan masyarakat di sekitarnya, maka kita boleh berharap bahwa daya kasih itu bisa mengubah dunia di sekeliling kita menjadi lebih baik. 

 

Dahsyatnya daya kasih itu diungkapkan Paulo Coelho dalam novelnya Sang Alkemis: “Cinta adalah daya yang mengubah dan meningkatkan Jiwa Buana. Kitalah yang merawat Jiwa Buana itu, dan apakah bumi yang kita tinggali ini akan menjadi lebih baik atau lebih buruk, tergantung pada apakah kita menjadi lebih baik atau lebih buruk. Dan di situlah daya cinta masuk. Ketika kita mencinta, kita selalu berjuang untuk menjadi lebih baik daripada diri kita sekarang ini.” 

 

Hal yang sama digambarkan dalam Kitab Wahyu suasana surgawi dimana kasih meraja. Kalau suasana kasih mewarnai hidup kita, maka kitapun sudah bisa mencicipi surga di dunia ini. Tentu kesempurnaan kasih itu kelak kita alami di surga nanti: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia, dan Ia akan tinggal bersama-sama mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya, dan Ia akan menjadi Allah mereka. “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Kitapun diajak untuk membaharui dan menjadikan segala sesuatu baru karena daya kasih sejati. Kita bisa ubah dunia dengan Kasih. 

 

Kita mohon rahmat melalui Bunda Maria Ratu Surga, Bunda Segala Suku, Bunda Umat Berhikmat agar kita sungguh dilimpahi kasih Tuhan sehingga kitapun bisa saling mengasihi dan membaharui dunia dengan Kasih Tuhan. 

 
 

Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.