Belas Kasih Menghidupkan Harapan

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail


 

Kita telah melewati separuh dari Masa Prapaskah. Kita memasuki Minggu Prapaskah IV yang disebut juga minggu LAETARE: Minggu Sukacita (bdk. Minggu III Adven = Minggu Gaudete). Sukacita itu digemakan sejak antifon pembuka: “Bersukacitalah bersama Yerusalem, dan bersorak sorailah karenanya, hai semua para pencintanya. Bergiranglah riang ria bersama dia, kalian yang dulu berkabung karenanya.” Warna liturgi juga sedikit berubah bukan ungu, melainkan rose karena menggambarkan antisipasi sukacita Paskah. 

 

Minggu ini dalam tradisi kuno disebut Minggu BUNDA. Kesempatan dalam keluarga-keluarga di mana anak-anak memberikan bunga dan perhormatan kepada IBU masing-masing dan GEREJA sebagai Bunda yang melahirkan umat beriman, serta penghormatan Maria sebagai Bunda Gereja. Ada tradisi ziarah dan berdoa ke gereja INDUK: KATEDRAL. Menu khusus dalam keluarga: roti SIMNEL (Similia, semidalis) = tepung halus, banyak bahan buah-buahan. Roti ditaburi gula halus warna putih. 

 

Sukacita sejati terjadi karena kita mengalami belas kasih Allah sehingga menggerakkan untuk berubah dan membaharui diri berbalik kepada Allah Bapa. Gambaran itu dikisahkan dengan dramatis dalam Kisah Anak Yang Hilang dan Bapa yang berbelas kasih. Tema “BELAS KASIH ALLAH” sangat menonjol dalam Injil Lukas. Di mata Lukas Yesus ialah pribadi cermin wajah belas kasih Allah yang tiada batas. Ditampilkan belas kasih Allah yang mengatasi paradigma lama: pahala dan hukuman semata. Belas kasih Allah membawa harapan baru = hidup baru = Kabar Gembira terutama kepada kaum yang disingkirkan pada zaman Yesus yaitu para PENDOSA, Kaum Miskin Papa, Kaum Perempuan & Anak-anak, Kaum Terbuang, Terpinggirkan, Bangsa-bangsa Non Yahudi. Semuanya ditampilkan secara personal dlm perjumpaan pribadi. 

 

Gagasan pokok Lukas ini membawa harapan baru yakni kebaikan Tuhan untuk siapa saja, lebih-lebih terhadap pendosa yang mau mendekat kepadaNya. Warta gembira dari perumpamaan tersebut adalah kita diajak menyadari bahwa Tuhan yang diperkenalkan Yesus itu bertindak seperti sang ayah yang pengampun dan pemurah itu. 

 

Perumpamaan ini dipakai untuk menonjolkan perhatian sang ayah. Mengenali tokoh BAPA ini membuat kita bisa semakin memikirkan dan memiliki kebesaran hati Tuhan. Gambaran itu dipakai untuk menonjolkan perhatian sang ayah. Melalui tokoh Bapa ini, kita diajak bisa semakin memikirkan dan mengerti kebesaran hati Tuhan. Ia mencintai si bungsu yang “pendosa” dan mengasihi si sulung yang “kaku hati”. Dia tidak duduk mengadili atau menghukum. Ia tergopoh-gopoh mendatangi orang yang remuk hatinya. Dipahaminya juga si sulung yang marah melihat Ia memperlakukan pendosa seperti anak. Ia tidak balik mencela. Tetapi Bapa mengajak berpikir arah baru, membuka kemungkinan, terobosan, harapan baru. Demikianlah kita diundang memiliki belas kasih seperti Bapa. 

 

Kita mohon rahmat melalui Bunda Maria, Bunda Segala Suku, Bunda Umat Berhikmat, agar kita diberikan rahmat untuk mengalami belas kasih Allah Bapa sehingga kitapun tergerak untuk membaharui diri dalam pertobatan, sekaligus semakin memiliki kemurahan belas kasih seperti Bapa.

 

Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.