Impian dan Imaginasi: Daya yang Menggerakkan

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail


Memasuki minggu Prapaskah II, bacaan KS yang ditawarkan kepada kita untuk kita renungkan bersama mengajak kita semua membangun visi hidup yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Visi hidup yang memampukan kita tidak hanya terpaku melihat titik kekinian tetapi juga mampu menerobos jauh ke masa depan kendati kita belum bisa melihatnya dengan jelas. Orang bijak mengatakan “Poor eyes limit your sight, poor vision limit your deeds” Mata yang bermasalah (minus, plus, katarak, rabun), membuat penglihatan kita terbatas. Tetapi visi hidup yang sempit membuat tindakan dan perilaku kita menjadi miskin, sempit, minim. Betapa pentingnya memiliki visi, imaginasi dan impian dalam kehidupan.


Dalam Kisah Abraham digambarkan bagaimana Tuhan mengundang Abram mengubah visi hidupnya. Abram menerima Janji Tuhan bahwa ia akan menerima tanah, keturunan dan berkat. Di awal reaksi wajar dan manusiawi terlontar dari Abram “Dari manakah aku tahu bahwa aku akan memilikinya?” Tetapi Abram percaya dan mengambil visi, imaginasi, janji itu sebagai miliknya dan menghidupinya kendati jalannya berkelok dan sabar menanti. Ia tekun menjalankan dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Ia merawat dan memupuk pengharapan akan Janji Tuhan. Perubahan visi hidup diawali dengan pergantian nama dari Abram menjadi Abraham. Karena berpegang teguh pada Janji Tuhan, Abraham menjadi teladan Bapa Kaum Beriman.


St. Paulus dalam Surat kepada jemaat di Filipi juga menegaskan visi hidup seorang kristiani sebagai pengikut Kristus. “Kita ini warga Kerajaan Surga. Kita menantikan Tuhan Yesus Kristus Sang Penyelamat yang akan mengubah tubuh kita yang fana ini menjadi serupa dengan TubuhNya yang mulia”. Untuk mengkontraskannya Paulus memberikan ilustrasi sebaliknya yang dia sebut sebagai “musuh salib Kristus”. Visi hidupnya dengan lugas ditunjukkan oleh Paulus: “Tuhan mereka adalah perut. Kemuliaan mereka adalah hal aib, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara-perkara duiawi. Kesudahan mereka adalah kebinasaan”. Kita bisa bercermin, visi hidup macam apa yang senyatakan sedang aku hidupi: warga Kerajaan Surga atau warga Kerajaan Kebinasaan.


Dalam kisah Injil para murid terdekat Yesus (Petrus, Yohanes, Yakobus) mendapatkan vision Yesus yang mulia bersama Musa dan Elia. Pengalaman yang membuat mereka menjadi takjub dan bahagia. Reaksi Petrus sangat manusiawi ingin tetap berada dalam suasana kebahagiaan dan kemuliaan: “Guru betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia”. Tetapi akhirnya, mereka haru turun gunung kembali kepada realitas bahkan mereka akan mengalami realitas pahit dan gelap. Alih-alih, mereka akan melihat Yesus sebagai raja yang mulia, mereka malahan akan melihat Dia yang menderita dan kematian tragis di kayu Salib.


Visi, impian, imaginasi sungguh kita butuhkan. Kita perlu memiliki visi, imaginasi yang luhur dan mulia karena kita warga kerajaan Surga. Tetapi untuk itu membutuhkan kita bukan “berkemah di pucuk gunung” atau terbuai dalam impian, tetapi kita diajak “turun gunung” bertindak dan bergerak untuk mewujudkan impian itu. Caranya diberikan dalam kisah Injil yaitu mendengarkan suara Bapa dan Sang Putera, “Inilah Anaku yang Kupilih, dengarkanlah Dia”. Dalam mendengarkan dan melaksanakan kehendak Bapa dalam diri Sang Putera, kita pasti akan mengalami banyak tantangan, godaan dan perjuangan. Oleh karena itu, St Paulus meneguhkan pergumulan kita bersama dengan nasehatnya, “Saudaraku yang kukasihi dan kurindukan, sukacita dan mahkotaku, berdirilah dengan teguh dalam Tuhan.


Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita tengah menyaksikan dan mengalami kontestasi elektoral dalam pemilu pilpres dan pileg. Semua kandikat menawarkan visi dan impian. Kita perlu cermat dan cerdas meneliti visi misi kandidat, tetapi terlebih mengulik cara atau strategi yang akan mereka lakukan untuk mewujudkan visi tersebut. Apakah ini hanya omong kosong, kata manis, janji surga setinggi langit, atau janji yang realistis dan sudah ada bukti nyata, kinerja, rekam jejak yang menunjukkan mereka mampu bekerja keras dan menggerakkan komponen bangsa untuk mewujudkan mimpi bersama. Kalau tidak, janji tinggal janji, mimpi tinggal mimpi. Langkahnya adalah C2T2 yaitu catat, cermati, telusuri, dan tagih janji ketika diberi amanah konstitusional. Jadilah pemilik yang cermat, cerdas, bijak, dan berhikmat.


Kita mohon rahmat melalui Bunda Maria, Bunda Segala Suku, Bunda Umat Berhikmat, agar kita semakin teguh berdiri dalam menatapi jalan Yesus yaitu jalan ketaatan kepada Bapa. Berjalan bersama Yesus melalui Jalan Salib menuju Kemuliaan Kebangkitan.


Tuhan memberkati.

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.