BELAJAR BERHIKMAT DARI BUNDA MARIA

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

 

Kita telah memasuki kembali masa biasa sesudah kita menyelesaikan rangkaian perayaan Natal. Kalender liturgi memberikan kepada kita semua sebuah inpsirasi menarik dari bacaan-bacaan minggu ini mengawali masa biasa. Permulaan Penampilan Yesus di muka umum, memulai karya perwartaan dan perutusan-Nya. Kita diajak untuk belajar berhikmat dari Bunda Maria yakni melaksanakan perintah Yesus, agar Allah leluasa berkarya dalam hidup kita sehingga kesatuan dan kegembiraan senantiasa terpancar. 

 

Semangat dasar yang bisa kita jadikan inspirasi memasuki masa biasa yaitu sukacita dan kesatuan sebagai murid-murid Yesus dalam penyertaan Bunda Maria. Hidup dalam sukacita digambarkan dalam bacaan pertama dari kitab Nabi Yesaya sukacita sepasang mempelai yang memulai hidup baru. “Seperti seorang mempelai girang hati melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atas engkau” Tidak lagi disebut “yang ditinggalkan” atau “yang sunyi” tetapi diberikan nama baru yang ditentukan oleh Tuhan yaitu “Yang Berkenan Kepada Tuhan”. Bangsa-bangsa akan melihat kebenaran dan kemuliaan umatNya. 

 

Sukacita yang sama digambarkan pada kisah Perjamuan Nikah di Kana. Hidup digambarkan sebagai sebuah perayaan yang membawa sukacita. Namun demikian tidak berarti tanpa masalah dan tantangan. Mereka mengalami masalah  yaitu kehabisan anggur. Berkat kehadiran Maria dan Yesus, perjamuan itu diselamatkan dan kegembiraan tetap berlangsung. Air diubah menjadi anggur. Menjadi tanda pertama yang dinyatakanNya. Kemuliaan Tuhan dinyatakan dan murid-murid menjadi percaya. Bersama Maria dan percaya akan Yesus kita dimampukan untuk menghadapi aneka masalah dengan penuh pengharapan dan optimisme. Kita diajak untuk mengubah “air menjadi anggur” dalam kehidupan: masalah jadi berkah, tantangan jadi peluang, berat jadi berkat, aib jadi ajaib, dst.

 

Kita bisa belajar berhikmat dari Bunda Maria. Maria mengantar dan membuka jalan kedatangan Yesus kepada orang banyak dan mempertemukan mereka dengan Tuhan sendiri. Maria tidak mendesak atau memaksa. Ia percaya Yesus mempunyai perhitungan sendiri. Tetapi, Maria tidak tinggal diam saja. Ia mempersiapkan jalan Tuhan yaitu ia menyuruh orang melakukan apa yang nanti dikatakan Yesus. Inilah cara menantikan saat Tuhan bertindak dalam perhitungan-Nya sendiri. “Apa yang dikatakan-Nya kepada mu, buatlah itu!” (Yoh 2:5) 

 

St Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus memberikan kepada kita semua inspirasi berhikmat sebagai persekutuan umat. Kesadaran kesatuan dalam keragaman / kebhinnekaan karena kita semua dipersatukan dalam Kristus dan Roh Kudus. “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Banyak anggota, satu Tubuh dalam Kristus.” (1 KORINTUS 12: 4-5, 12:12). Mengakui adanya perbedaan sebagai karunia, berkah bukan sebagai masalah. Banyak karunia, SATU ROH. Secara nyata semangat itu dirumuskan sebagai tata pelayanan pastoral-evangelisasi umat KAJ yang tercamtum dalam Ardas yaitu sinergis, dialogis, partisipatif dan transformatif. Kita berhikmat manakala kita semakin mampu menghargai perbedaan dan memberi ruang bagi kehadiran Tuhan sehingga membawa kebaikan bagi seluruh jemaat. “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakan nya untuk membangun Jemaat.” (1 Kor 14:12). 

 

Kita mohon rahmat melalui Bunda Maria, Bunda Segala Suku, Bunda Umat Berhikmat, agar kita boleh semakin berhikmat dalam menghadapi tantangan hidup dalam pengharapan dan kepercayaan penuh akan Penyelenggaran Ilahi. 

 

Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.