Hadiah Natal Yang Retak

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Saya masih ingat akan hadiah pada hari Natal pertama yang saya terima dari suami saya. Saat itu kami masih pengantin baru dan tak punya banyak uang. Kami berbelanja kebutuhan Natal di sebuah swalayan. Swalayan itu menawarkan metode berbelanja dengan cara kredit dengan bunga 1%. Dengan cara itu, kami dapat berbelanja untuk merayakan Natal.

 

Kami sepakat memilih hadiah secara bergantian, sehingga tetap mendapat kejutan saat membukanya kelak. Saya mendapat giliran pertama. Saat giliran suami saya, saya menunggu di dalam mobil. Matahari terbenam dan suhu semakin dingin. Saya dapat melihat nafas saya bagaikan asap di udara dan saya mulai kedinginan. Karenanya, saya mengawasi pintu keluar toko itu.

 

Akhirnya, suami saya keluar dengan kereta dorong penuh barang bagaikan kereta luncur Sinterklas. Ia tampak ceria, matanya bersinar dan senyumnya tersungging. Kereta yang di bawanya melintas di halaman parkir dengan hati-hati. Namun senyum di wajahnya dalam sekejap berubah menjadi kekecewaan, saat kereta yang didorongnya menabrak polisi tidur dan hadiah untuk saya berupa lampu kaca jatuh ke trotoar. Lampu itu patah menjadi dua.

 

Malam itu juga, kami merekatkan kembali lampu tersebut. Sejak itu, lampu itu berada di ruang tidur kami. Saya senang karena kami tidak menyerah dan membuangnya begitu saja. Setiap kali menyalakannya, kami teringat peristiwa tersebut, manakala sepasang pengantin baru menangisi sebuah lampu murah, lalu bersama-sama memperbaikinya. Tatkala semuanya itu kami lalui, kami mengalami Natal yang indah.

 

Kami telah berulangkali menabrak ―polisi tidur dalam kehidupan pernikahan yang membuat kami harus berlutut dihadapanNya. Tetapi, syukur kepada Allah, DIA (Kasih dan RahmatNya) menjadi lem yang merekatkan dan menyatukan kami selama bertahun-tahun. Menjalani Natal demi Natal. (Georgia Curtis Ling).

 

 

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna. Tak ada yang ideal. Tak satu-pun dari kita yang sempurna dan utuh. Hanya ALLAH yang sempurna. Namun demikian Allah yang mahasempurna, Allah mahabesar itu, MEMILIH menjadi MANUSIA DAN TINGGAL DI ANTARA KITA dalam sosok BAYI LEMAH. 

 

Misteri inkarnasi memiliki makna mendalam da-lam iman kristiani. Allah masuk dalam sejarah. Allah memeluk KERAPUHAN MANUSIA supaya bisa MEMBAWA MANUSIA KEMBALI MENEMUKAN MARTABAT KEMULIAANNYA. Memperoleh kembali HIDUP ILAHI, SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH, hidup dalam RAHMAT KASIH KARUNIA DAN HIKMAT ALLAH. 

 

Melalui inkarnasi, SEJARAH menjadi SEJARAH KESELAMATAN. KISAH-KU menjadi KISAH KASIH-NYA. Sejarah Hidupku menjadi Sejarah Keselamatanku. Itulah kidung malaikat pada malam Natal: “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi dan damai sejahtera di bumi bagi manusia yang berkenan kepadaNya.” Gloria Dei, Homo Vivens‖ (Memuliakan Allah berarti meluhurkan martabat manusia). Manusia luhur mulia dan berahmat: Semakin INSANI dan ILAHI. 

 

Jejak pengalaman hidup kita itu ada keretakan dan serpihan. Kita tahu kita rapuh. Tapi kita tidak menyerah, tidak membuang, tetapi bersama-sama memperbaiki dan menyusun kembali puing-puing, serpihan-serpihan itu, kendati dengan air mata, kepedihan dan pengorbanan. 

 

Kita percaya ada ALLAH-sang IMANUEL. Dia akan turut bekerja dan berkarya, kalau kita mengundang dan mengizinkan Tuhan masuk dalam kehidupan kita. Ia menjadi LEM PEREKAT, yang menyatukan serpihan-serpihan dan potongan-potongan itu menjadi karya baru yang indah. 

 

Inilah makna NATAL sejati. Kita mengalami ALLAH BESERTA KITA. Allah berkarya da-lam kehidupan kita, juga dari retakan, puing-puing, serpihan-serpihan kehidupan kita yang berserakan. 

 

Orang kristiani tidak pernah mengenal JALAN BUNTU. Tak mengenal PUTUS ASA dan MENYERAH. Karena YAKIN memiliki ALLAH PENYELAMAT (YESUS) sekaligus IMANUEL-ALLAH BESERTA KITA. Inilah Hikmat SEJATI SUKA CITA-KARENA KITA MENGALAMI ALLAH BESERTA KITA. 

 

J-O-Y : Jesus-Other-You. Pola relasi keluarga kristiani adalah”segitiga sukacita KASIH”: Yesus-Maria-Yosef, Yesus-Suami- Istri. Yesus-Ortu-Anak. Semoga teladan Keluarga Kudus Nazareth menjadi inspirasi bagi keluarga kristiani.  
 
Tuhan memberkati. 


 
 
 
 
 
 

This entry was posted in Warna Warni. Bookmark the permalink.