BERSUKACITALAH DALAM TUHAN 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

 

Bersukacitalah. Gaudete! Kita telah memasuki minggu Adven Ketiga, yang juga disebut Minggu Gaudete (Sukacita). Suasana khusus ini ditandai dengan warna liturgi khusus yaitu rose atau pink, baik dalam lilin ketiga maupun dalam busana liturgi yang dikenakan imam (kasula). Penantian, persiapan dan pembaharuan dikemas dalam suasana gembira, bukan dalam suasana murung dan berbeban berat, melainkan suka cita. Itulah yang digemakan dalam antifon pembuka dari Surat St. Paulus kepada jemaat di Filipi: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Alasan utama bersuka cita yaitu karena Tuhan sudah dekat. 
 

Nabi Zefanya membesarkan hati umat Israel untuk memiliki kembali semangat dan kegembiraan yang telah lama lenyap dari hidup mereka. Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bergembiralah, hai Israel! Bersukacita dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lunglai. Tuhan Allahmu ada di tengah-tengahmu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bersukaria karena engkau, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, dan Ia bersorak gembira karena engkau seperti pada hari pertemuan raya.” 
 

Dalam suasana sukacita itu, St. Paulus menasehati kita untuk tetap teguh dan tekun dalam doa agar tidak mudah khawatir dan kecil hati: “Janganlah kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi dalam segala hal nyatakanlah keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Maka damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” 
 

Sementara Lukas dalam Injilnya memberikan contoh konkret apa yang harus diperbuat untuk mewujudkan pertobatan melalui nasehat Yohanes Pembaptis yaitu berbagi: makanan, pakaian, dll. “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapamempunyai makanan, hendaklah ia berbuat demikian juga.” Nasehat khusus diberikan sesuai konteks hidup seseorang. Kepada pemungut cukai dinasehati: “Jangan menagih lebih banyak dari yang telah ditentukan!” Kata lainnya “Jangan KORUPSI!” Kepada para prajurit Yohanes menasehati: “Jangan merampas dan jangan memeras, dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” 
 

Kisah Injil ini mesti diteruskan dengan menjawab pertanyaan dasar ini sesuai konteks hidup masing-masing: APA YANG HARUS AKU PERBUAT? AKU sebagai: bapak dan suami? ibu dan Istri? Anak-anak? Siswa/i, guru, karyawan, pengacara, akuntan, pengusaha, buruh, politisi, pensiunan, lansia, dokter, perawat, TNI/ Polri, PNS / ASN, dll ?
 

Kita mohon rahmat melalui Bunda Maria dan St. Yusuf, agar kita bertekun dan tetap bersemangat dalam pembaharuan diri pada masa Adven ini, agar semuanya itu mewujud nyata. Semuanya itu kita lakukan dengan sukacita. Sukacita karena Tuhan sudah dekat. Sukacita karena mengalami Tuhan hadir di tengah-tengah kita. 
 

Ke Kota naik angkutan taksi. Jakarta bisa terendam kalau musim hujan. 
 

Dalam kata dan perbuatan bersaksi. Bersuka cita selalu dalam Tuhan. 
 

Kebayak bersih warna bahan merah hati. Banyak terima kasih. Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.