Merawat Ingatan dan Sejarah Untuk Masa Depan

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Puji Tuhan. Setelah melalui proses yang panjang, pada kesempatan yang berbahagia, Penutupan Sidang Sinodal KWI 2018 dan Misa Syukur untuk Sri Paus, tanggal 14 November 2018, Museum Katedral, Keuskupan Agung Jakarta resmi dibuka dan operasional kembali Sedianya peresmian direncanakan tanggal 27 Oktober 2018. Namun berhubung Bapak Uskup Ignatius Suharyo, harus hadir dalam Pesparani di Ambon, maka rencana tersebut kami geser pada kesempatan istimewa tersebut. 
 

Momentum yang kita ambil adalah dalam rangka 90 tahun Peringatan Sumpah Pemuda dan Syukur Tahun Persatuan KAJ 2018: Kita Bhinneka Kita Indonesia. Untuk diketahui, Sidang Pertama, Konggres Pemuda II (27 Oktober 1928) berlangsung di Katolieke Jongenlingen Bond (KJB) – Gedung Pemuda Katolik di kompleks Katedral ini (sekarang Aula Katedral). 
 

Museum Katedral diprakarsai oleh Pastor Kurris SJ dan diresmikan 28 April 1991 oleh Mgr Julius Darmaatmadja SJ berlokasi di balkon / mezanine gereja Katedral lantai 2. Pemindahan museum ke lokasi Pastoran Lama dimulai Rm Bratakartana SJ dan sudah dilaksanakan dengan soft launcing, 20 Agustus 2017. 
 

Dengan konsep bertumbuh, museum ini terbuka untuk disempurnakan terus sambil jalan. 
 

Terima kasih untuk kerja keras Panita Museum dan dukungan Dewan Paroki Katedral, Kuria KAJ, donatur dan banyak pihak. Semoga Museum ini menjadi tempat kita belajar dan bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih, dengan bercermin dan memetik inspirasi dari sejarah masa lampau, sehingga kita mampu pula pada gilirannya mengemban tanggung jawab sejarah masa depan dengan penuh pengharapan. 
 

Bapak Uskup dalam sambutan peresmian menegaskan harapan untuk kita semua sebagai umat KAJ: 

“Tanpa sejarah kita tidak mampu mengenal nilai-nilai yang tumbuh mekar karena bimbingan Tuhan dan keterlibatan banyak pihak, sehingga KAJ menjadi seperti sekarang ini. Semoga museum Katedral tidak hanya menyimpan koleksi benda mati, tetapi dapat menghidupkan kembali ingatan masa lalu agar umat KAJ dapat mengetahui sejarah KAJ yang sudah berlangsung selama 211 tahun. Maka menjadi tanggung jawab umat KAJ untuk terus merawat dan mengembangkan nilai-nilai Gereja sebagai Persekutan dan gerakan umat Allah mewartakan Kerajaan Allah.” 
 

Kita mohon pula rahmat melalui Bunda Maria, agar kita semakin bertumbuh dalam semangat kebijaksaan dan keberanian memikul tanggung jawab sejarah. Semoga semangat itu membuat kita tiada lelah mencari bentuk-bentuk kreatif ikut serta menuliskan sejarah baru Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.