Jalan Kemuridan: Melayani dan Memberikan Diri

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Kita memasuki Minggu Biasa XXIX dalam bulan Rosario. Kita diajak untuk merenungkan sikap seorang hamba Allah sejati seperti Bunda Maria, namun sekaligus juga sikap seorang murid Yesus yang sejati. Yesus memberikan kepada kita semua standar mutu dan tolok ukur apakah kita semakin mendekati apa yang diharapkan dari kita semua sebagai seorang murid yaitu menyerupai Sang Guru yang kita ikuti bersama.
 

Sebagai guru yang baik Yesus memberikan pengajaran khusus kepada para murid berulang-ulang. Para murid tampak gagal paham mengerti ajaran Yesus tentang kemuridan yaitu salib dan kebangkitan. Dalam Injil Markus, tampak jelas bahwa proses mengerti akan misteri kebenaran Salib dan Kebangkitan tidak mudah. Seperti para murid, kita mudah tergiur oleh teologi Kemakmuran / Teologi Sukses dan tidak berminat pada Teologi Salib. Iman Katolik teguh dalam ajaran iman yang benar yaitu mewartakan teologi Salib dan Kebangkitan secara utuh dan penuh.
 

Secara berurutan Markus membahas dalam 3 bab (8, 9,10). Tiga kali (3x) Pernyataan, 3x Penolakan dalam variasi yang berbedabeda, namun disertai 3x pengajaran dan penegasan Yesus. Inilah pernyataan Yesus tentang Salib dan Kebangkitan: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan. Ia akan ditolak oleh tua-tua, oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, dan bangkit sesudah tiga hari.”
 

Tiga Pernyataan / Pemberitahuan Yesus:

  1. PERNYATAAN I: Mrk 8:34-39
  2. PERNYATAAN II: Mrk 9:34-37
  3. PERNYATAAN III: Mrk 10:35-45

 

Tiga Tanggapan “gagal paham” dari para Murid:

  1. Petrus menegur Yesus dan menolak: Jangan sekali-kali terjadi.
  2. Tidak mengerti, tapi segan bertanya, malah bertengkar tentang siapa terbesar di antara mereka.
  3. Yakobus & Yohanes: minta jabatan dan kedudukan (posisi duduk di kanan dan kiri). 10 Murid lain marah kepada dua bersaudara.

 

Tiga Pengajaran dan Penegasan Yesus atas dasar tanggapan para murid:

  1. PENGAJARAN I: Kehilangan Nyawa: menyangkal diri, memanggul salib dan mengikuti Aku.
  2. PENGAJARAN II: Terbesar = Terkecil dan pelayan bagi semua.
  3. PENGAJARAN III: Terkemuka = melayani bukan dilayani dan mengorbankan diri (memberikan nyawanya).

 

Penutup dari serangkaian pengajaran ini berakhir pada ayat berikut: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yg terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Dilanjutkan kisah kunci penyembuhan si buta dan pengemis yaitu Bartimeus. Tanggapan yang diharapakan dari kita semua diwakili oleh sosok Bartimeus. Ia disembuhkan dari “buta” dan dilukiskan: “Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Yesus dalam perjalanNya.” (Mrk 10:52)
 

Bagi umat Katolik yang mencalonkan diri jadi caleg atau timses Calon Presiden dan Wapres atau yang menjadi pejabat publik di negeri ini, nasehat peringatan dari Mgr. Albertus Sugijopranata, SJ berikut ini patut mendapat perhatian Anda: “Kalau mau jadi POLITIKUS, jangan HAUS KEKUASAAN. Kalau tidak, nanti hanya akan jadi BENALU NEGARA”. Selamat berjuang di ranah politik untuk kebaikan bersama, kepentingan umum (bonum communae) dan memuliakan martabat manusia.
 

Kita mohon rahmat melalui Bunda Maria agar kita boleh semakin menjadi murid-murid Yesus sejati, semakin menjadi anak-anak terkasih Bunda Maria, yaitu kalau kita semakin tekun setia melayani sesama dengan rendah hati dan murah hati, dengan tekun, setia dan gembira. Tuhan memberkati.

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.