BANGSA YANG MERDEKA 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Pada tahun 2018 ini kita akan merayakan peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke 73. Bukan usia yang muda lagi, melainkan usia yang matang untuk suatu bangsa. Tema bersama tahun 2018: Kerja Kita, Prestasi Bangsa. Tema ini mau menegaskan dan sekaligus memaknai bangsa kemajuan bangsa Indonesia tidak bisa tercapai tanpa kerja kerjas, disiplin dan tanggung jawab semua komponen anak negeri. Di lain pihak juga mau memaknai berbagai pencapaian yang kita raih merupakan prestasi bersama dan ikut mengharumkan nama bangsa. Pencapain individu dalam kerangka lebih luas membawa kebanggaan seluruh negeri. Kita diajak untuk berkontribusi dan berprestasi dalam bidang keterlibatan masing-masing. 
 

Kita juga diundang untuk memiliki sikap mental yang sehat yaitu mampu mengapresiasi pencapaian bangsa sendiri, karya anak negeri, produk dalam negeri, dan kekayaan warisan budaya Indonesia. Kita masih dihantui mentalitas yang tidak sehat yaitu mengagungkan segala yang berbau asing, luar negeri dan Barat. Sementara itu selalu merendahkan, memandang sebelah mata hasil karya anak bangsa negeri sendiri. Dalam hal seperti ini boleh dikata, kita belum sepenuhnya merdeka. Seorang tokoh bapak bangsa Sutan Sjahrir pernah menuliskan kegelisahan dan keprihatinannya dalam catatan harian saat dibuang ke Digul Irian dan cita-citanya yang tetulis dalam Perjuangan Kita: 
 

“Perjuangan kita sekarang ini bagaimana juga aneh rupanya kadang-kadang, tidak lain dari perjuangan kita untuk mendapat kebebasan jiwa bangsa kita. Kedewasaan bangsa kita hanya jalan untuk mencapai kedudukan sebagai manusia yang dewasa bagi diri kita. Oleh karena itu kita sebagai bangsa yang percaya kepada kehidupan, percaya kepada kemanusiaan, berpengharapan kepada tempo yang akan datang…” 
 

“ Kita telah belajar menggunakan alat-alat kekuasaan, akan tetapi kita tidak berdewa atau bersumpah pada kekuasaan. Kita percaya pada tempo yang akan datang untuk kemanusiaan, di mana tiada kekuasaan lagi yang menyempitkan kehidupan manusia, tiada lagi perang, tiada lagi keperluan untuk bermusuh-musuhan antara sesama manusia. Sebagai bangsa yang balik muda kita mencari tenaga kita sebagai bangsa di dalam cita-cita yang tinggi dan murni. Kita tidak percaya pada mungkin dan baiknya hidup yang didorong oleh kehausan pada kekuasaan semata-mata ….” 
 

“Kebangsaan kita hanya jembatan untuk mencapaí derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk memuaskan dirí sendiri kita, sekali-kali bukan untuk merusakkan pergaulan kemanusiaan … Kebangsaan kita hanya satu roman dari pembaktian kita kepada kemanusiaan …” 
 

Semoga bangsa Indonesia semakin matang dan dewasa. Kemerdekaan dibaktikan untuk-memuliakan kemanusiaan dan bukan meraih kekuasaan semata. Itulan cita-cita kita bersama. Dirgahayu Republik Indonesia. Kita Bhinneka, Kita Indonesia. Merdeka. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.