BERILAH LEBIH BANYAK CINTA DAN KEBAIKAN 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Pada abad lalu dunia mengalami tragedy dua Perang Dunia yang mematikan, ancaman perang nuklir, dan sekian banyak konflik. Pada zaman ini, kita mendapati diri terlibat dalam perang dunia tak terstruktur, berkepanjangan, dan mengerikan. Tidak mudah untuk menentukan, apakah dunia kita sekarang ini lebih menderita daripada abad lalu atau tidak. Tidak mudah juga untuk mengetahui, apakah perkembangan komunikasi dan transportasi zaman membuat kita semakin sadar akan adanya kekerasan yang meningkat atau kita malah menjadi terbiasa dengan kekerasan itu sendiri. 
 

Sungguh, kekerasan tak terstruktur ini, dengan aneka bentuknya dan level yang berbeda-beda menyebabkan penderitaan yang besar: perang antarnegara, antarbenua,terorisma, kejahatan terorganisir, dan aneka kekeraasan yang tak bias diprediksi. Penderitaan itu harus ditanggung oleh para migran, korban perdagangan manusia, dan rusaknya lingkungan. Apa yang akan terjadi dengan dunia kita ini? Bisakah kekerasan digunakan untuk meraih tujuan yang akan berlangsung lestari? Ataukah itu semua hanya akan membawa kita pada lingkaran setan konflik yang mematikan dan hanya memberi manfaat pada segelintir “pemenang”? 
 

Kekerasan tidak bias menjadi obat bagi dunia kita yang terluka ini. Membalas kekerasan dengan kekerasan hanya akan menyebabkan makin menderitanya para migran dan korban-korban kekerasan. Dan akhirnya, itu semua hanya menyebabkan kematian, baik secara fisik maupun mental banyak orang, bila tidak bias dikatakan semua. 
 

Yesus sendiri hidup pada zaman yang penuh dengan tindak kekerasan. Namaun Ia berkata, perang sesungguhnya, di mana kekerasan dan perdamaian bertemu adalah di dalam hati hati kita, “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, pencabulan, pencurian, dan pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, kesombongan, kebebasan”. (Mar 7:21) Pesan Kristus kepada kita menghadapi hal ini sungguh radikal secara positif. Ia berhasil menunjukkan cinta Allah yang tanpa syarat, yang selalu menerima semua orang apa adanya dan memaafkan. Yesus mengajar muridnya untuk mencintai musuh-musuhnya (Mat 5:44). 
 

Menjadi murid Yesus sejati berarti menerima dan mempraktikkan ajarannya tentang tindak non kekerasan. Paus Benediktus XVI mengatakan, “Ajaran Yesus itu realistis dalam dunia di mana ada selalu banyak kekerasan, terlalu banyak ketidakadilan. Karena itulah, taka da yang bias kita lakukan untuk mengatasinya kecuali dengan memberi lebih banyak cinta, lebih banyak kebaikan yang datangnya hanya dari Allah. 
 

Bagi orang Kristiani, tindak non-kekerasan bukan sekedar pilihan taktis tetapi haruslah menjadi pilihan hidup, perilaku yang mencerminkan betapa ia begitu diyakinkan oleh cinta dan kekuatan Allah hingga ia tidak takut menghadapi kejahatan dengan bersenjatakan cinta dan kebenaran saja. 
 

Pilihan tindak nonkekerasan bukan berarti menyerah pada kejahatan, tetapi menghadapi kekerasan dengan kebaikan sehingga dapat memutus tali ketidakadilan. 
 

Marilah kita berdoa bagi kita semua, semoga kita hanya selalu mengandalkan cinta dalam segala tindakan. 
 

(Paus Fransiskus) 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.