MERAYAKAN RELASI KASIH

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Setelah kita menutup perayaan Paskah dengan Hari Raya Pentakosta yakni turunnya Roh Kudus, maka perayaan puncak iman kristini dimahkotai dan paripurna sebagai sebuah rangkaian perayaan. Minggu Sesudah Pentakosta dirayakan sebagai Hari Raya Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Merayakan Tritunggal Mahakudus, sesungguhnya merupakan ungkapan iman Kristiani akan karya Allah yang mencipta, menebus dan menguduskan serta menuntun kita semua kepada keselamatan. Merayakan Tritunggal Mahakudus bukan semata mengungkapkan pernyataan iman dalam dogma atau ajaran iman, tetapi terutama mau menyatakan dan merayakan relasi yaitu relasi yang terbangun atas dasar kasih. 
 
Maka kita akan luput membidik makna perayaan Tritunggal Mahakudus kalau kita menangkap dengan logika, matematika atau diskursus yang rumit dan njlimet. Pengalaman akan Allah sebagai Bapa yang mencipta dan asal tujuan kita. Allah yang begitu mengasihi kita. Sebagaiman dirumuskan dengan sangat baik dan puitis oleh St. Yohanes dalam Injil nya: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:16) 
 

Dalam keyakinan iman Kristiani, karya penyelamatan itu, berasal dari Bapa, dilaksanakan oleh Putera yang diutus ke dunia, kemudian dijaga keberlangsungannya oleh Roh Kudus. Demikianlah pada suatu masa dalam sejarah gereja muncul rumusan iman mengenai Tritunggal dalam hubungan dengan karya penyelamatan. Kesatuan antara ketiga pribadi itu sedemikian mendalam sehingga keesaan Allah tidak berubah. Bapa, Putera dan Roh Kudus ialah tiga pribadi dari Allah yang satu. Merayakan Tritinas berarti percaya bahwa Allah senantiasa berkarya, Allah yang terus menerus berkarya memenuhi alam semesta dan mencurahkan hidup ilahinya dalam segala sesuatu untuk keselamatan umat manusia. 
 

Bagi umat Kristiani, Allah diyakini sebagai Allah yang senantiasa berkarya, maka kita sebagai umat kristiani diajak / diundang pula ikut serta memandang, merasa, memutuskan dan bertindak bersama-sama dengan Allah. Misi kekristenan berarti ikut serta dalam karya bersama Allah yang berjerih payah tiada lelah untuk menyembuhkan dan menyelamatkan dunia. Oleh karena itu, pertanyaan besar untuk kita ajukan bukanlah “Tuhan Engkau melakukan apa?” Tetapi dengan rendah hati berhikmat dalam penegasan rohani: “Tuhan, apa yang Kau kehendaki kami untuk berbuat sesuatu bersamaMu?” Spiritualitas kristiani bersumber dari relasi yang hidup dari Allah Tritunggal. Bukan melihat, tetapi terlibat. Bukan memandang, tetapi menyandang. Bukan penikmat (consummers) tetapi produktif berkarya (entrepreneur). FAITH with our Minds, LOVE with our Hearts, SERVICE with our Hands. Beriman dengan nalar sehat. Mengasihi dengan sepenuh hati. Melayani dengan tangan terulur. 
 

Kita mohon rahmat melalui Bunda Maria agar kita boleh semakin mengalami kasih Allah begitu rupa, sehingga kitapun ikut serta bersama Allah menyembuhkan dan menyelamatkan dunia dengan kasih ilahi Allah Tritunggal Mahakudus. Dimuliakanlah Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. 
 

Bunda Maria Ratu Surga, Bunda Segala Suku, sertailah dan doakanlah kami dan bangsa Indonesia tercinta. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.