Tinggallah dalam Kasih-Ku 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Pada hari minggu Paskah VI ini kita bersama diajak untuk semakin memasuki semangat Yesus yang bangkit bisa merasuk dan memasuki seluruh kehidupan kita sebagai murid-murid Yesus. Minggu lalu, kita diajak merenungkan tentang relasi kita dengan Yesus dengan perumpamaan Pokok Anggur dan Rantingnya, minggu ini Injil Yohanes hari ini mengajak kita membaharui semangat dasar sebagai orang Kristiani yaitu Kasih. Ajaran dan perintah Yesus bila diperas menjadi 1 kata yang muncul adalah Kasih. Kata Kasih mengungkapkan dengan jitu makna dari kata Agape. Kata Agape berarti pemberian diri bahkan pengorbanan diri tanpa syarat. Kasih dalam bahasa Indonesia mempunyai padanan kata dan makna yang tegas yaitu memberi. Kasih = Memberi. Maka, kasih tanpa pemberian diri itu kosong dan tak bermakna. Itulah yang ditegaskan Yesus dengan bersabda, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” ( Yoh 15:13). 
 
Yesus menyebut mereka yang mengikutiNya dan melakukan apa yang diperintahkanNya dengan Sahabat. Melaksanakan perintah Kasih itulah yang memasukkan kita ke dalam lingkaran dekat sahabat-sahabat Yesus. Bukan sebagai hamba yang sekedar menjalan perintah tuannya, tetapi sebagai sahabat yang memiliki relasi akrab, dekat dan mendalam. “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15:14-15). 
 

Kita diundang untuk melaksanakan Kasih sebagai wujud nyata komitmen seorang sahabat bukan sebagai hamba dalam semangat kewajiban, keterpaksaan, keharusan, sekedar menjalankan perintah, tanpa keterlibatan batin dan seluruh jiwa. Semangat seorang sahabat adalah totalitas yang dalam kesempatan lain Yesus menegaskan perintah utama yaitu mengasihi dengan segenap akal budi, hati, pikiran dan kekuatan. Di dalam totalitas itulah kita menemukan suka cita sejati. Hanya dengan melakukannya kita bisa mengerti apa yang dimaksud Yesus dengan sukacita kasihNya. Ia ingin agar sukacita itu kita alami dan menjadi milik kita. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 15: 11-12). St. Yohanes dalam suratnya menegaskan kembali dan mengajak kita semua untuk saling mengasihi karena semua itu bersumber dari Allah sendiri. Di mana kasih, di situlah Tuhan hadir. Semakin kita mewujudkan kasih, semakin pula kita menghadirkan Tuhan dalam kehidupan dan lingkungan di mana kita hadir. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yoh 4:7-8). Bila kita sungguh menghidupi kasih, maka kitapun juga akan dengan antusias dan gembira mewartakan pengalaman akan kasih Allah kepada sesama kita sebagaimana disharingkan Petrus kepada Cornelius dan keluarganya tentang kabar gembira Injil yang berlaku untuk semua orang yang mau menerimanya. Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.” (Kis 10: 34-36). 
 

Kita mohon penyertaan Bunda Maria, Sang Ratu Surga agar menolong kita anak-anaknya dalam peziarahan dan perjuangan menjadi murid Yesus sejati. Semoga melalui doa Bunda Maria, kita semakin mengalami kasih Allah dan sukacita Injil, sehingga kitapun dengan tekun dan setia mewujudkan kasih dan mewartakannya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini.
 
 
Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.