GEMBALA BAIK 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

 

Pada hari minggu Paskah IV ini dalam tradisi Gereja Katolik dirayakan sebagai Minggu Panggilan. Bacaan Injil diambil dari Injil Yohanes yang mewahyukan Yesus sebagai Gembala yang baik. Spiritualitas Gembala baik dan murah hati menjadi motto KAJ sebagai mana tercantum dalam logo. Tulisan diletakkan di dasar logo dengan kesadaran dan harapan bahwa semangat gembala baik dan murah hati melandasi seluruh gerak umat Allah di KAJ baik para pelayan pastoral baik imam dan biarawan biarawati maupun kaum awam. 
 

Baik dalam logo KAJ maupun dalam Salib khas yang dipasang di meja altar gereja paroki maupun kapel biara, digambarkan Yesus Sang Gembala Baik di tengah domba-domba yang berdiri. Sebuah imajinasi bahwa gereja akan hidup kalau seluruh gembala berdiri dalam keadaan siap siaga, tanggap dan gesit menangkap tanda zaman dan menanggapinya dengan langkah-langkah nyata menyambut gerak Roh Kudus yang senantiasa menggerakkan dinamika Gereja. Bukan digambarkan domba-domba yang berbaring malas-malasan, menunggu atau manja menuntut dilayani. Sebaliknya domba-domba yang berani dan bernyali menanggapi panggilan sejarah sebagai pejuang yang terlibat bukan sebagai penonton berjarak dalam pergumulan manusia jaman now. 
 

Minggu Panggilan ini merupakan ajakan dan tanda pengingat kepada seluruh umat beriman bahwa ada panggilan khusus dalam Gereja yaitu sebagai imam dan hidup bakti sebagai biarawan/wati. Mereka inilah yang membaktikan seluruh hidupnya bagi pelayanan kepada Tuhan melalui pelayanan kepada Gereja dan umat beriman. Hal yang patut diberi tekanan adalah tanggung jawab seluruh umat teristimewa mereka yang memilih panggilan hidup berkeluarga untuk mempersembahkan putra putri terbaik kepada Tuhan. Hanya keluarga yang bisa menyediakan calon-calon untuk hidup panggilan khusus. Tidak berlebihan kalau Keluarga adalah Seminari awal tempat benih-benih panggilan disemai. Sekiranya keluarga-keluarga sungguh menghidupi semangat iman Katolik dengna sungguh, kita boleh berharap akan muncul benih-benih panggilan. Namun demikian, kalau keluarga-keluarga tidak mendukung dan merelakan maka benih itu mati layu sebelum berkembang. Oleh karena itu, kalau keluarga-keluarga Katolik tidak mau memberikan anak-anak yang terbaik, maka jangan menuntut mendapat pelayanan maksimal dari para imam dan biarawan/wati. Sebaiknya kemurahan hati keluarga-keluarga sungguh diharapkan dan dimohonkan dalam doa Panggilan. Tentu sangat baik kita berdoa mohon panggilan, tetapi jauh lebih mulia lagi bila keluarga-keluarga murah hati dan mendukung bila Tuhan memanggil anak-anak terbaik dari keluarga Katolik. 
 

Yesus meminta kita semua memohon agar mengirimkan pekerja-pekerja untuk menuai panenan. Kita memang harus tekun memohon dan berdoa kepada Tuhan, namun doa kita harus disertai komitmen mendukung mereka yang telah terpanggil untuk setia dan bahagia dalam panggilannya. Sekaligus mengetuk keluarga-keluarga Katolik untuk bermurah hati mempersembahkan putra-putrinya sebagai pekerja di ladang Tuhan. Marilah kita mendoakan mereka yang telah menyediakan diri dan menanggapi Panggilan Tuhan untuk menjadi Imam, Birawan/wati, semoga mereka semua bahagia dalam panggilan dan semangat dalam karya pelayanan mereka. Kiranya, Bunda Maria dan St. Yusuf teladan keluarga-keluarga mendampingi dan meneguhkan keluarga-keluarga Katolik dengan doa dan inspirasi hidup Keluarga Kudus Nazaret.
 
 

 

Tuhan memberkati. 

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.