Menjadi Bait Roh Kudus

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Kita memasuki Minggu Prapaskah III. Selama minggu-minggu yang berlalu kita diajak untuk menyadari bagaimana kita semakin mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Tempat Perjumpaan digambarkan secara khusus yaitu Padang Gurun (Minggu I), Gunung (Minggu II) dan Bait Allah (Minggu III).
 
Bila kita melihat dalam tata peribadatan Israel, struktur Bait Allah dibagi dalam berbagai zone yang memisahkan masing-masing kelompok dan fungsi-fungsi dalam peribadatan dalam kehidupan orang Yahudi.
 
Ada 5 pelataran / plaza yang dikhususkan dalam tata peribadatan umat Israel yaitu :

  1. Pelataran Maha kudus
  2. Pelataran Para Imam
  3. Pelataran Umat Israel (Laki2)
  4. Pelataran Perempuan
  5. Pelataran Orang Non Yahudi (Orang Asing)

 
Yesus dalam kisah Injil digambarkan membersihkan Bait Allah dengan tindakan yang menghebohkan dengan mengobrak abrik dan menjungkir balikkan pasar di pelataran Bait Allah. Pengelola Bait Suci lupa dan keblinger karena berpikir bahwa BAIT ALLAH itu dimaksudkan bagi orang Yahudi saja.
 
Maka mereka memutuskan untuk mengubah pelataran bangsa non Yahudi (pelataran 5) dari tempat yang “suci” menjadi PASAR untuk menjual hewan diperlukan untuk pengorbanan dan untuk bertukar uang. Anda bisa membawa uang Romawi / bangsa lain asal tidak masuk ke dalam 4 Pelataran yang lain.
 
Pelataran orang non Yahudi tidak lagi dianggap sebagai bagian dari rumah Allah, telah diubah menjadi pasar murni dan sungguhan. YESUS mau membersihkan pelataran orang non Yahudi. Dengan demikian Yesus menegaskan dan mengembalikan kesucian Bait Allah bahwa pelataran non-Yahudi juga sama suci sebagaimana pelataran Yahudi yaitu Bait Allah alias RUMAH ALLAH.
 
Mahatma Gandhi pernah membuat daftar tujuh (7) Dosa Sosial yang membuat kehidupan semakin jungkir balik dan kacau balau. Ia memperluas paham dosa tidak hanya moralitas pribadi tetapi moralitas sosial. Kesucian tidak hanya dicari di altar (Bait Allah) tetapi juga di pasar (dunia keseharian). Namun sekaligus mengingatkan jangan altar dijadikan pasar alias diperjual belikan.
 
Inilah daftar 7 Dosa Sosial:

  1. Politik tanpa nurani.
  2. Kemakmuran tanpa kerja keras.
  3. Bisnis tanpa etika.
  4. Pendidikan tanpa pembentukan watak dan budi pekerti.
  5. Kenikmatan hiburan tanpa kesadaran.
  6. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengabaikan kemanusiaan.
  7. Ibadat / agama hanya ritual semata tanpa pengorbanan / pemberian diri.

 
Semoga kita semakin mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam masa Prapaskah. Kiranya kita semakin menemukan hal-hal yang tidak tepat dalam hidup kita, mungkin sudah banyak hal yang terbolak balik.
 

Inilah saatnya menata kembali, mengembalikan pada tempatnya dengan mengacu hukum Tuhan (10 Perintah Allah) dan terutama berdasar cinta kasih sebagai hukum tertinggi yang diajarkan Yesus. Dengan cara itu diri kita masing-masing semakin menjadi Bait Allah, Tempat Kediaman Roh Kudus.
 

Semoga masa Prapaskah 2018 menghasilkan buah pertobatan yang berlimpah dan pembaharuan hidup. Kiraya Bunda Maria Bunda kita semua, senantiasa menyertai kita dalam langkah-langkah pembaharuan hidup kita.
 
 

Tuhan memberkati.

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.