Panggilan Pewarta Injil

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Saudara-saudara, memberitakan Injil bukanlah suatu alasan bagiku untuk memegahkan diri. Sebab hal itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil.
 
Bagi Paulus menjadi Pewarta Injil itu bukan pilihan profesi tetapi sebuah panggilan dari Allah. Ini adalah kewajiban ilahi diletakkan pada dia, panggilan yang dipercayakan kepadanya oleh Tuhan sendiri. Akibatnya dia tidak bisa membual tentang pelayanannya atau melihat itu hanya sebagai jalur karier. Ini adalah panggilan. Ada orang yang terlibat dalam pelayanan karena mereka tidak bisa menemukan pekerjaan lain. Ada orang yang mau pelayanan karena dibayar dengan baik, tetapi Paulus, seperti Yesus, melihat pelayanan sebagai panggilan untuk melayani bukan untuk dilayani (Matius 20:28).
 
Paulus tidak mengevaluasi keberhasilan pelayanannya sebagaimana dilakukan banyak pengkotbah modern: besarnya ukuran bangunan gereja mereka, banyaknya jemaat, ukuran rekening bank mereka atau berapa banyak jumlah persembahan dalam kolekte. Ia mengukur kesuksesannya hanya dengan berapa banyak jiwa-jiwa ia dapat dimenangkan dan dibawa kepada pembesasan Injil Yesus Kristus. “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang”. (1 Kor 9:18-19)
 
Paulus memiliki satu Injil, tapi ia menyajikan secara berbeda untuk khalayak yang berbeda. Dia beradaptasi pada situasi yang berbeda. Ia tidak hanya menyesuaikan gaya khotbahnya, tetapi juga pribadinya gaya hidup, makan, pakaian, dan kebiasaan sosial, agar melayani dan meningkatkan daya tarik Injil kepada pendengar. “Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamat kan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” (1 Kor 9: 20-22).
 
Salah satu tantangan besar bagi gereja dan bagi kita adalah untuk menjadi segalanya bagi semua orang, sehingga orang dari setiap budaya, kelas sosial dan ekonomi, dapat mendengar pewartaan kita tentang Injil kabar baik kepada setiap hati manusia. Untuk dapat menjadi pewarta Injil yang baik, kita diajari oleh Yesus untuk memelihara semangat dasar itu dengan memelihara keheningan. Dalam keheningan itulah Yesus menunjukkan rahasia kekuatanNya. Dengan memelihara keheningan, Yesus menimba kekuatan dan inspirasi dari BAPA, melakukan diskresi / Penegasan Rohani menegaskan kehendak Allah, dan mempertakankan tetap FOKUS: Visi-Misi Mewartakan Injil Kerajaan Allah.
Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kotakota yang berdekatan, supaya di sana pun Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang!
 
YESUS sengaja menjauh dari orang banyak mencari tempat sunyi dan membiarkan diri dibimbing Roh Kudus yang sejak baptisannya turun ke atasnya. Yesus mencari keheningan agar semakin mampu melihat kehadiran ilahi di dalam kehidupannya. Inilah yang membuatnya tahan menjalankan perutusannya. Inilah yang membuatnya ditakuti kekuatan-kekuatan jahat.
 
Bagi Yesus, meluangkan diri mengikuti gerak gerik Yang Ilahi itu mutlak. Itu sumber kekuatannya dan kekuatan ini juga bisa diteruskan-Nya kepada orang-orang yang membutuhkan. Di mana saja. Yesus malah mengajak para murid pergi ke tempat lain, agar di sana pun Injil diberitakan. Seperti matahari yang bersinar ke mana-mana, begitulah Ia merasa perlu pergi ke tempat-tempat lain membawakan Kabar Gembira.
 
Semoga kitapun dapat menjalankan perutusan sebagai pewarta Injil jaman now, sesuai dengan konteks hidup kita masing-masing. Di manapun dan kapanpun, kita tidak dilepaskan dari panggilan kita mewartakan kabar baik dan sukacita Injil kepada dunia.
 
Tuhan memberkati.

This entry was posted in Seputar Gereja. Bookmark the permalink.