Meningkatkan Tanaman Organik di Lingkungan Keluarga

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedinmail

Sabtu, 22 Agustus 2015 WKRI mengadakan pertemuan bulanan di aula bawah Katedral. Tema pertemuan kali ini adalah, “Meningkatkan tanaman organik di lingkungan keluarga”, dengan pembicara Bruder Pudiharjo OFM. Bruder datang bersama rekan-rekannya dengan membawa aneka ragam tanaman organik, bibit tanaman, dan hasil tanaman organik berupa buah-buahan, sayur-sayuran, dan ayam organik

 

Tanaman organik adalah tanaman yang dipelihara tanpa menggunakan zat-zat kimia, semua menggunakan bahan-bahan probiotik (yang berarti pro kehidupan) yang berasal dari sampah dapur, sisa makanan, kotoran hewan, dsb. Bruder menjelaskan cara pembuatan pupuk alami yaitu dengan mengumpulkan semua bahan-bahan yang telah disebutkan tadi dalam suatu wadah dan diberi penghilang bau lalu ditutup selama beberapa waktu. Setelah beberapa hari wadah dibuka, cairan yang dihasilkan ditampung dalam botol dan bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau sebagai media tanaman hidroponik, bahan padat yang sudah hancur dijemur dan dijadikan kompos. Pupuk yang baik biasanya bewarna hitam, sudah hancur, dan sedikit berminyak. Untuk penyiraman tanaman bisa menggunakan air bekas cucian beras, atau sisa kopi dan teh. Jika ada serangga datang, kita tidak perlu memusuhi mereka, karena menurut Bruder mereka adalah saudara-saudara kita, belalang datang untuk mengingatkan kondisi tanah kita sudah terlalu asam, tikus datang karena tanah kita sudah kekurangan mineral.

 

Dengan menanam tanaman organik, kita bisa mengurangi pembuangan sisa makanan yang berlebihan, kita kelola dan jadikan pupuk. Bruder menghimbau para wanita Katolik untuk menjadi pionir mengelola tanaman organik dengan menanam sayur-sayuran, buah-buahan dsb. Bruder juga membagi-bagikan poly bag dan media tanaman kepada setiap peserta. Peserta diajak untuk langsung praktek menanam tanaman organik, bibit sudah disediakan oleh Bruder dan rekan-rekannya. Bruder mengatakan jika satu orang menanam satu atau dua pohon saja, maka hasilnya bisa untuk konsumsi keluarga atau dikumpulkan bersama dan setiap minggu bisa ditawarkan di kantin gereja. Jika sudah banyak pengikutnya maka bisa menjadi sumber mata pencaharian, dan bisa menyediakan makanan sehat bagi keluarga dan umat separoki. Jika sudah lebih luas lagi maka bisa mengurangi kekurangan pangan di negara kita.

 

Bruder juga menjelaskan berbeda dengan tanaman hidroponik yang menggunakan media cair, unsur-unsur hara hanya berasal dari zat kimia yang dicampurkan dalam air. Mengkonsumsi tanaman hidroponik dalam waktu lama dapat menggangu kesehatan. Kita juga harus berhati-hati mengkonsumsi tanaman yang banyak menggunakan pupuk kimia, karena sisa-sisa zat kimia tersebut masih ada, dan dapat mempengaruhi kesehatan kita semua.

Marilah kita mulai menanam tanaman organik dan cerdas memilih makanan bagi kita dan keluarga kita, memelihara kesehatan, mengurangi sampah di sekitar kita, dan memenuhi kebutuhan pangan bagi diri kita dan sesama. Bruder Pudiharjo OFM mengatakan, “Dengan banyak membuang kita manjadi boros dan merusak lingkungan, dengan mengumpulkan kita menjadi kaya dan membantu menyelamatkan bumi kita tercinta.”

 

Emmanuella JKD

This entry was posted in Berita KOMUNITAS. Bookmark the permalink.