Gereja dengan
gaya neo-gotik, yang diresmikan
pada tanggal 21 April 1901 itulah yang menjadi
gereja Katedral di Jakarta hingga saat ini.
Berbagai peristiwa mewarnai lebih dari 100 tahun
berdirinya Gereja Katedral ini. Pada tahun 1924
untuk pertama kalinya seorang Uskup ditahbiskan
dalam Gereja Katedral, yaitu Mgr A. Van Velsen
SJ dan tahun berikutnya sidang pertama Majelis
Wali-wali Gereja di Indonesia diadakan dalam Pastoran
Katedral.
Kardinal Agaginian, seorang Armenia, mengunjungi
Jakarta pada tahun 1959 dan diterima dengan meriah
oleh Gereja dan pimpinan Negara RI. Pembicaraannya
dengan para waligereja dan pembesar ordo yang
berkarya di seluruh Indonesia penting bagi masa
depan. Hasilnya diumumkan pada tahun 1961 : Gereja
di Indonesia bukan daerah misi lagi, melainkan
Gereja Bagian yang berdiri sendiri. Vikaris Apostolik
Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, yang ditahbiskan
di Katedral Jakarta oleh Duta Besar Vatikan pada
tanggal 23 April 1953, sepuluh tahun tahun kemudian
diangkat menjadi Uskup Agung. Pada saat itu (1962)
Keuskupan Agung Jakarta mencakup 14 Paroki dengan
jumlah umat 32.599 orang. Propinsi Gerejani Jakarta
mencakup juga keuskupan lain yaitu Bogor dan Bandung.
Pada tahun 1963/1965 para Uskup Indonesia ikut
serta dalam konsili Vatikan II, yang membawa banyak
perubahan dalam pastoral dan liturgi Gereja. Waktu
para Uskup masih berada di Roma, di Jakarta pecah
G30S PKI, sehingga Katedral perlu dijaga oleh
para Pemuda Katolik dan tentara.
Peristiwa lainnya yang menggembirakan bagi umat
Jakarta adalah Kunjungan Paus Paulus VI (1970)
dan Paus Johanes Paulus II (1989) ke Indonesia
yang disambut oleh Mgr Leo Soekoto. Ibadat dirayakan
dengan meriah oleh Paus Paulus VI bersama banyak
Uskup di Katedral. Pada waktu kunjungan Paus Yohanes
Paulus II di Keuskupan Agung Jakarta sedang berlangsung
Sinode Pertama.
Seiring dengan masa 100 tahun ini, pada tahun
1988 dilakukan pemugaran untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan
dan membersihkan lumut serta pengecatan ulang.
Disamping itu juga dibangun gedung Pastoran dan
gedung pertemuan yang baru dibagian belakang gereja.
Pada 13 Agustus 1988, purnakarya pemugaran gereja
Katedral diresmikan oleh Bapak Soepardjo Roestam
yang pada saat itu beliau menjabat sebagai Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat R.I, hadir
mewakili Presiden Soeharto. Acara dimeriahkan
dengan konser orgel oleh bapak Hub Wolfs, organis
dari basilica Santo Servatius di kota Maastrich
dan oleh Pastor Alfons Kurris Pr, dosen di konservatorium
di kota yang sama. Mgr Leo Soekoto memberkati
orgel pipa yang baru dan megah itu, sebuah orgel
yang mempunyai 15 register dan diperlengkapi dengan
1000 buah pipa. Berselang-seling kedua organis
yang professional itu memperdengarkan karya-karya
klasik, yang oleh komponis-komponis seperti Vivaldi,
Bach dan Cesar Frank diciptakan khusus untuk instrumen
rajawi itu.
Pada tahun 2002 juga sempat dilakukan pembersihan
dan pengecatan ulang pada dinding luar gedung
gereja Katedral karena lumut banyak tumbuh merambat
di dinding.
Ketika gedung ini pertama kali dibangun dulu,
para pejabat genie (pasukan zeni) waktu itu menilai
gedung gereja yang menghabiskan biaya 628.000
gulden rancangan P.A Dijkmans tersebut sebagai
"gedung yang terlampau kuat" mengingat
struktur gedung dan material yang digunakan sungguh-sungguh
pilihan yang terbaik. Maka sampai sekarang - 100
tahun sesudahnya - gereja Katolik utama di Jakarta
tetap berdiri tegak.
|