Para imam
dan umat mulai mengupayakan dibangunnya gereja
yang baru. Tanggal 01 November 1890 ditandatangani
sebuah kontrak antara Monseigneur Claessens
dan pengusaha Leykam tentang
pembelian tiga juta batu bata. Ukurannya harus
sesuai dengan contoh yang dilampirkan dan harganya
ditetapkan 2,2 dan 2,5 sen sebuah. Mulai tanggal
1 Desember 1890, setiap bulannya harus diserahkan
70.000 buah batu bata dari perusahaan pembakaran.
Jumlah batu bata yang retak dan pecah tidak boleh
melebihi 10%. Dari kondisi ini jelaslah bahwa
pembangunan gereja dilakukan secara lebih professional.
Orang yang ditunjuk dan dipercaya untuk menjadi
perencana dan arsitek pembangunan gereja ini adalah
Pastor Antonius Dijkmans, SJ
seorang ahli bangunan yang pernah mengikuti kursus
arsitektur gerejani di Violet-le-Duc di Paris
Perancis serta Cuypers di Nederland. Pastor Antonius
Dijkmans SJ yang sudah tiba di Jakarta dua tahun
sebelum gereja runtuh, sebelumnya sudah membangun
dua gereja di Belanda. Beliau juga merancang dan
membangun kapel Susteran Jl. Pos 2, pada tahun
1891.
Pada pertengahan tahun 1891 mulai dilakukan peletakan
batu pertama untuk memulai pembangunan gereja
tersebut. Setelah kurang lebih setahun berjalan
pembangunan terpaksa dihentikan karena kurangnya
biaya. Selain itu, pada tahun 1894 Pastor Antonius
Dijkmans, SJ harus pulang ke Belanda karena sakit
dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1922.
Pekerjaan pembangunan macet dan misa tetap dilaksanakan
di garasi Pastoran.
Uskup baru, Mgr E.S. Luypen SJ (1898-1923) mengumpulkan
dana di Belanda dan Insinyur M.J. Hulswit
memulai pembangunan lagi. Batu "pertama"
diletakkan dan diberkati pada tanggal 16 Januari
1899, sebagai tanda dimulainya lagi pembangunan
gereja ini. Pada bulan November balok-balok atap
di pasang.
Untuk mendukung dana pembangunan gereja, umat
tidak tinggal diam saja. Badan Pengurus Gereja
bersama umat dua kali mengadakan undian (loterai),
satu kali sebelum pelatakan fondamen, kemudian
sebelum pembangunan atas dimulai. Dalam arsip
gereja masih tersimpan neraca sebagai berikut
:
Neraca
Pembangunan Katedral
credit
Fl
106.000
=
Undian I
90.500
=
Undian II
59.500
=
Derma
30.500
=
Derma yg masih di harapkan
14.000
=
bunga
90.000
=
subsidi pemerintah
___________
yg masih diharapkan
Fl
529.000
=
97.000
=
kekurangan
___________
Fl
626.000
Debet
Fl
162.000
=
Fondamen
8.000
=
Perbaikan Gereja Darurat
400.000
=
Perkiraan Bangunan atas
24.000
=
cadangan
22.000
=
Pinjaman
___________
Fl
626.000
=
Karena subsidi
dari pemerintah tetap ditolak, maka neraca ini
merupakan harapan dan kekurangan yang sebenarnya
ialah Fl 187.000,- . Untuk menutup kekurangan
itu dikeluarkan obligasi sebesar Fl 50.000,- dan
pengumpulan derma di kalangan umat Katolik maupun
diluarnya ditingkatkan.
Yang mengagumkan ialah bahwa Badan Pengurus Gereja
bersama umat dengan usahanya sendiri sanggup mengumpulkan
seluruh biaya. Maka persangkaan banyak orang saat
ini bahwa gereja Katedral semata-mata dihadiahkan
oleh Pemerintah Belanda ternyata tidak benar.
Selain arsitek baru, ada juga seorang kontraktor
bernama van Schaik. Sedangkan
Ir. van Es mewakili Badan Pengurus
Gereja sebagai bouwheer. Konstruksi besi kedua
menara digambar dan dikerjakan oleh Ir. van Es
sendiri.
11 tahun sesudah keputusan Badan Pengurus Gereja,
10 tahun sesudah peletakan batu pertama, gereja
selesai. Perlu diingat bahwa selama 7 tahun pembangunan
gereja terhenti karena kehabisan dana, sehingga
pembangunan sebenarnya hanya berlangsung 3 tahun.
"De Kerk van Onze Lieve Vrowe ten
Hemelopneming- Gereja Santa
Maria Diangkat Ke Surga" diresmikan
dan diberkati oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen,
SJ, seorang Vikaris Apostolik Jakarta pada tanggal
21 April 1901. Dalam upacara peresmian tersebut
banyak dihadiri para pejabat dan umat. Mgr Luypen
berdoa sejenak di hadapan patung Maria yang terdapat
diantara dua pintu utama, lalu tepat pada pukul
08.00 pagi, Mgr. Luypen mulai mengelilingi seluruh
gereja dan memerciki dengan air suci sambil diiringi
paduan suara Santa Sesilia, yang pada tanggal
22 November 1865 didirikan oleh Tuan C.G.F. can
Arcken. Prosesi terdiri dari pembawa salib, putra
altar, para imam dan akhirnya sang Vikaris Apostolik.
Di muka altar semua berlutut dan menyanyikan litani
Segala Orang Kudus. Misa Pontifikal dengan liturginya
yang kuno nan luhur diselenggarakan oleh Bapa
Uskup, didampingi lima imam. Paduan Suara Santa
Sesilia dengan pimpinan bapak Toebosch dan dengan
iringan organ menyanyikan Misa karangan Benoit.
Mulai sejak itu gereja utama di Jakarta itu layak
disebut Katedral, karena didalamnya terdapat cathedra,
yakni Tahta Uskup.