Dengan adanya
perubahan politik di Belanda khususnya kenaikan
tahta Raja Lodewijk, seorang Katolik, membawa
pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama
mulai diakui pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807
pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan
Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur
Apostolik Hindia Belanda. Prefektur Apostolik
adalah suatu wilayah Gereja Katolik yang bernaung
langsung di bawah pimpinan Gereja Katolik di Roma,
yang dipimpin bukan oleh seorang Uskup, melainkan
oleh seorang Imam biasa yang ditunjuk oleh Paus,
yang disebut Prefek Apostolik.
Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari
Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus
Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr.
Yang diangkat menjadi Prefek Apostolik pertama
adalah Pastor J. Nelissen, Pr.
Setelah sekitar dua abad perayaan ekaristi dilarang
di Hindia Belanda, pada tanggal 10 April 1808,
untuk pertama kalinya diselenggarakan misa secara
terbuka di Batavia di rumah Doktor F.C.H Assmuss,
kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Tuan dokter
bersama dengan beberapa kawan berhasil mengumpulkan
sejumlah orang dan sebagian besar adalah tentara.
Upacara Misa berlangsung sederhana dengan tempat
yang kurang memadahi dan kebanyakan hadirin, sekalipun
beragama Katolik, kurang memahami makna luhur
perayaan ekaristi. Kedua Pastor tersebut untuk
sementara tinggal di rumah Tuan Assmuss. Sebagai
tuan rumah, Tuan Assmuss mulai memperkenalkan
kedua Pastor itu dengan lingkungan di Batavia
yang tentunya masih asing bagi mereka. Pada bulan
Mei, kedua Pastor itu sempat pindah ke rumah bambu
yang dipinjamkan pemerintah untuk digunakan sebagai
pusat sementara kegiatan-kegiatan katolik. Letaknya
di asrama tentara di pojok barat daya Buffelsveld
atau Lapangan Banteng (sekarang kira-kira di antara
jalan Perwira dan Jalan Pejambon, diatas tanah
yang saat ini ditempati oleh Departemen Agama).
Mulai 15 Mei 1808, perayaan Misa Kudus mulai diselenggarakan
disini, sehingga rumah ini tidak saja menjadi
pastoran tapi juga merupakan gereja darurat pertama
untuk umat Katolik di Jakarta. Pada waktu itu
juga telah dibentuk Badan Pengurus Gereja dan
Dana Papa, yang terdiri atas Prefek Apostolik
J. Nelissen sebagai ketua, dengan anggota-anggota
Chevreux Le Grevisse, Fils, Bauer dan Liesart
Semakin lama tugas yang diemban terasa makin berat,
karena suasana disekitarnya sangat menekan dan
umat bersikap acuh tak acuh terhadap agama. Selama
tahun 1808, mereka membaptis 14 orang, yaitu seorang
dewasa keturunan Eropa Timur, delapan anak hasil
hubungan gelap, diantaranya ada empat yang ibunya
masih berstatus budak, dan hanya lima anak dari
pasanga orang-orang tua yang sah status perkawinannya.
Pada waktu itu memang sulit untuk mengumpulkan
domba-domba tak bergembala. Oleh karena itu, dirasa
perlu adanya sebuah rumah ibadah yang dapat digunakan
untuk mengumpulkan umat. Pada 2 Februari 1810,
Pastor J. Nelissen, Pr mendapat sumbangan sebuah
kapel dari Gubernur Jenderal Meester Herman
Daendels, yaitu sebuah kapel sederhana
yang terletak di pinggir jalan Kenanga, di daerah
Senen, menuju Istana Weltevreden (sekarang RSPAD
Gatot Subroto). Kapel ini dibangun oleh Cornelis
Chasteleijn (+ 1714) dan sebelumnya dipakai
oleh jemaat Protestan yang berbahasa Melayu dan
pada hari biasa dipakai sebagai sekolah. Kapel
ini merupakan milik Gubernemen yang dihadiahkan
berikut semua isinya, termasuk 26 kursi dan sebuah
organ yang sudah tidak dapat digunakan. Karena
kondisi bangunan yang kurang layak, Pastor Nelissen
segera mengerahkan sejumlah orang untuk merenovasi.
Semua pekerjaan ini dipercayakan kepada pengusaha
Tuan Tjung Sun dibawah pengawasan Tuan
Jongkind, arsitek, atas nama Dewan Gereja.
Kapel inilah yang menjadi Gereja Katolik I di
Batavia. Dalam bulan yang sama, Gereja Katolik
pertama di Batavia ini diberkati dan sebagai pelindungnya
dipilih Santo Ludovikus. Gedung
itu memang tidak bagus namun dirasa cukup kuat
karena terbuat dari batu dan dapat menampung 200
umat. Di dekat gedung gereja itu dibangun sebuah
Pastoran sederhana yang terbuat dari bambu.
Pada tanggal 27 Juli 1826, terjadi kebakaran di
segitiga Senen. Pastoran turut lebur menjadi abu
bersama dengan 180 rumah lainnya, sementara itu
gedung gereja selamat namun gedungnya sudah rapuh
juga dan tidak dapat digunakan lagi. Namun demikian,
dalam ruangan yang suci itu, telah terjadi beberapa
peristiwa yang membuatnya bernilai historis juga.
Pada tanggal 10 Mei 1812 Sir Thomas Stamford Raffles,
gubernur Pulau Jawa, beserta istrinya Olivia,
hadir di Gereja Santo Ludovikus sebagai bapa-ibu
serani bagi seorang bayi yang dipermandikan. Pada
tanggal 6 Desember 1817, jenasah Prefektur Apostolik
pertama, Mgr Jacobus Nellisen, yang meninggal
karena sakit TBC disemayamkan dalam gereja itu.
|