Tentang Gereja
 
 
 
 
Sebuah Catatan Sejarah
• 1807-1826
• 1827-1890
• 1891-1901
• 1901-sekarang
 
Bangunan Tua Nan Elegan
• Menara
• Lonceng
• Pintu Masuk Utama
• Portal/Pendopo
• Ruang Dalam Gereja
• Altar
• Orgel Pipa
• Bejana Baptis
• Gambar Uskup
• Museum
• Goa Maria
• Patung Kristus Raja
 
 
 
Sebuah Catatan Sejarah
1807 - 1826
 
Dengan adanya perubahan politik di Belanda khususnya kenaikan tahta Raja Lodewijk, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda. Prefektur Apostolik adalah suatu wilayah Gereja Katolik yang bernaung langsung di bawah pimpinan Gereja Katolik di Roma, yang dipimpin bukan oleh seorang Uskup, melainkan oleh seorang Imam biasa yang ditunjuk oleh Paus, yang disebut Prefek Apostolik. Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Yang diangkat menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.

Setelah sekitar dua abad perayaan ekaristi dilarang di Hindia Belanda, pada tanggal 10 April 1808, untuk pertama kalinya diselenggarakan misa secara terbuka di Batavia di rumah Doktor F.C.H Assmuss, kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Tuan dokter bersama dengan beberapa kawan berhasil mengumpulkan sejumlah orang dan sebagian besar adalah tentara. Upacara Misa berlangsung sederhana dengan tempat yang kurang memadahi dan kebanyakan hadirin, sekalipun beragama Katolik, kurang memahami makna luhur perayaan ekaristi. Kedua Pastor tersebut untuk sementara tinggal di rumah Tuan Assmuss. Sebagai tuan rumah, Tuan Assmuss mulai memperkenalkan kedua Pastor itu dengan lingkungan di Batavia yang tentunya masih asing bagi mereka. Pada bulan Mei, kedua Pastor itu sempat pindah ke rumah bambu yang dipinjamkan pemerintah untuk digunakan sebagai pusat sementara kegiatan-kegiatan katolik. Letaknya di asrama tentara di pojok barat daya Buffelsveld atau Lapangan Banteng (sekarang kira-kira di antara jalan Perwira dan Jalan Pejambon, diatas tanah yang saat ini ditempati oleh Departemen Agama). Mulai 15 Mei 1808, perayaan Misa Kudus mulai diselenggarakan disini, sehingga rumah ini tidak saja menjadi pastoran tapi juga merupakan gereja darurat pertama untuk umat Katolik di Jakarta. Pada waktu itu juga telah dibentuk Badan Pengurus Gereja dan Dana Papa, yang terdiri atas Prefek Apostolik J. Nelissen sebagai ketua, dengan anggota-anggota Chevreux Le Grevisse, Fils, Bauer dan Liesart

Semakin lama tugas yang diemban terasa makin berat, karena suasana disekitarnya sangat menekan dan umat bersikap acuh tak acuh terhadap agama. Selama tahun 1808, mereka membaptis 14 orang, yaitu seorang dewasa keturunan Eropa Timur, delapan anak hasil hubungan gelap, diantaranya ada empat yang ibunya masih berstatus budak, dan hanya lima anak dari pasanga orang-orang tua yang sah status perkawinannya.

Pada waktu itu memang sulit untuk mengumpulkan domba-domba tak bergembala. Oleh karena itu, dirasa perlu adanya sebuah rumah ibadah yang dapat digunakan untuk mengumpulkan umat. Pada 2 Februari 1810, Pastor J. Nelissen, Pr mendapat sumbangan sebuah kapel dari Gubernur Jenderal Meester Herman Daendels, yaitu sebuah kapel sederhana yang terletak di pinggir jalan Kenanga, di daerah Senen, menuju Istana Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Subroto). Kapel ini dibangun oleh Cornelis Chasteleijn (+ 1714) dan sebelumnya dipakai oleh jemaat Protestan yang berbahasa Melayu dan pada hari biasa dipakai sebagai sekolah. Kapel ini merupakan milik Gubernemen yang dihadiahkan berikut semua isinya, termasuk 26 kursi dan sebuah organ yang sudah tidak dapat digunakan. Karena kondisi bangunan yang kurang layak, Pastor Nelissen segera mengerahkan sejumlah orang untuk merenovasi. Semua pekerjaan ini dipercayakan kepada pengusaha Tuan Tjung Sun dibawah pengawasan Tuan Jongkind, arsitek, atas nama Dewan Gereja. Kapel inilah yang menjadi Gereja Katolik I di Batavia. Dalam bulan yang sama, Gereja Katolik pertama di Batavia ini diberkati dan sebagai pelindungnya dipilih Santo Ludovikus. Gedung itu memang tidak bagus namun dirasa cukup kuat karena terbuat dari batu dan dapat menampung 200 umat. Di dekat gedung gereja itu dibangun sebuah Pastoran sederhana yang terbuat dari bambu.

Pada tanggal 27 Juli 1826, terjadi kebakaran di segitiga Senen. Pastoran turut lebur menjadi abu bersama dengan 180 rumah lainnya, sementara itu gedung gereja selamat namun gedungnya sudah rapuh juga dan tidak dapat digunakan lagi. Namun demikian, dalam ruangan yang suci itu, telah terjadi beberapa peristiwa yang membuatnya bernilai historis juga. Pada tanggal 10 Mei 1812 Sir Thomas Stamford Raffles, gubernur Pulau Jawa, beserta istrinya Olivia, hadir di Gereja Santo Ludovikus sebagai bapa-ibu serani bagi seorang bayi yang dipermandikan. Pada tanggal 6 Desember 1817, jenasah Prefektur Apostolik pertama, Mgr Jacobus Nellisen, yang meninggal karena sakit TBC disemayamkan dalam gereja itu.