Lahir di Reusel,
dekat perbatasan selatan Negri Belanda pada tanggal
6 Desember 1881. Anak seorang kepala dusun ini,
sejak kecil memang pintar dan sangat menonjol
diantara teman-temannya. Bahkan dia yang sepanjang
hidupnya selalu tampak agung dan tenang ditunjuk
untuk menjadi pemimpin korps musik di Sekolah
Apostolik Turnhout. Petrus Willekens masuk Serikat
Yesus dan langsung menyelesaikan studinya, ia
diberi tugas yang penuh tanggungjawab, yaitu membimbing
frater novis yang baru mulai masa percobaan untuk
menjadi Yesuit. Setelah melaksanakan tugas selama
delapan tahun, beliau diangkat menjadi rektor
Sekolah Tinggi Theologia di kota Maastricht, sampai
beliau ditugaskan bertolak sebagai visitator ke
Indonesia. Seorang Visitator diangkat oleh Pater
Jenderal Serikat Yesus di Roma untuk mengunjungi
dan meneliti karya-karya dan mutu kerasulan di
wilayah Serikat Yesus tertentu. Pada tahun 1928
selama sepuluh bulan dengan penuh perhatian beliau
meninjau seluruh karya Serikat Yesus di Pulau
Jawa sampai ke pelosok-pelosok. Sepulangnya dari
Jawa, beliau diutus lagi ke India, Inggris kemudian
Hongari dan Negri Inggris dengan tugas yang sama.
Pastor Petrus Willekens SJ diangkat sebagai Vikaris
ketujuh pada 23 Juli 1934 oleh Paus Pius XI sedangkan
tahbisan uskup di Katedral 3 Oktober 1934.
Kata-kata Santo Paulus kepada muridnya Timoteus
"scio cui credidi" atau "aku tahu
kepada siapa aku telah mempercayakan diri"
menjadi pedomannya.
DI bawah pimpinan Mgr Willekens ini wilayah Jawa
Tengah dipisah menjadi Vikariat Apostolik Semarang
(1940). Kemudian disusul Prefektur Apostolik Sukabumi
(1948).
Perubahan besar terjadi pada masa kepemimpinannya.
Nusantara berhasil direbut Jepang dari Belanda
dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya
17 Agustus 1945.
Setelah Belanda menyerah, banyak orang Belanda
diintenir pasukan Jepang, termasuk pastor, bruder,
dan suster. Berkat kelihainnya mengangkat diri
sebagai 'Wakil Paus', Mgr Willekens bersama sekretarisnya
Pastor L. Zwaans SJ tidak turut diintenir sehingga
dapat memberikan pelayanan kepada umatnya. Tanpa
memperhitungkan bahaya bagi dirinya, ia sering
menghadapi para pembesar untuk membela hak asasi
manusia. Dan itu tidak terbatas hanya pada orang
Katolik saja.
Sekitar pertengahan tahun 1952, Mgr Willekens
telah dibebas tugaskan oleh Sri Paus atas permintaannya
sendiri dengan alasan kesehatannya. Akan tetapi
kebanyakan orang yakin bahwa beliau mengundurkan
diri dengan alasan-alasan yang lebih luhur : beliau,
yang berkulit putih, mundur demi Indonesianisasi
Gereja Katolik di Ibukota Republik Indonesia.
Beliau memiliki gagasan-gagasan yang sangat luhur.
Beliaulah yang mengambil inisiatif untuk memulai
sebuah Seminari Tinggi untuk mendidik imam-imam
diosesan, yang lazim disebut room-romo projo.
Beliau juga mendirikan sebuah tarekat biarawati
pribumi, beliau pulalah yang memberanikan diri
mengajukan ke Roma nama calon Uskup dari generasi
pribumi Katolik yang pertama.
Pada tanggal 27 Januari 1971 beliau wafat di Yogyakarta
dalam usia 89 tahun dan dimakamkan di Muntilan.
|